0%
karangan bunga makassar
Rabu, 22 November 2023 08:36

Gaya Hidup di India, Hidup Serumah Tanpa Menikah Legal tapi Tabu

Editor : Azis Kuba
Gaya Hidup di India, Hidup Serumah Tanpa Menikah Legal tapi Tabu
ist

pasangan "kumpul kebo" atau yang tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan masih dianggap sebagai hal yang tabu.

PORTALMEDIA.ID — Ketika Priya Naresh dan pasangannya memutuskan untuk tinggal serumah dan hidup bersama pada tahun 2019, mereka tidak menyangka akan menghadapi penolakan dari pemilik rumah hanya karena status pernikahan mereka yang belum resmi.

"Agen kami dengan jelas mengatakan bahwa pemilik rumah tidak ingin menyewakan apartemen kepada pasangan yang belum menikah, meskipun kami adalah dua orang dewasa yang saling menyayangi," ungkap Naresh kepada DW dilansir Kompascom.

iklan pdam

Di India, pasangan "kumpul kebo" atau yang tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan masih dianggap sebagai hal yang tabu. Meskipun ada undang-undang yang progresif, tradisi dan moralitas masih memiliki pengaruh yang kuat dalam pola kehidupan masyarakat India.

Baca Juga : Terjebak 17 Hari di Terowongan Ambruk, 41 Pekerja Berhasil Dievakuasi 

Naresh dan pasangannya memerlukan waktu tiga bulan untuk menemukan tempat tinggal. Namun, dalam beberapa bulan, pasangan ini akhirnya memutuskan untuk tinggal terpisah setelah Naresh menjadi sasaran kebijakan moral yang agresif dari pemilik rumah dan keluarganya. Pasangan tersebut memilih untuk menunggu hingga menikah sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama kembali.

"Saya sangat trauma selama tiga bulan itu," kata Naresh.

Demikian pula, Apoorva Bose, seorang koordinator program di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menghadapi masalah serupa ketika mencari rumah di lingkungan menengah atas di ibu kota India, New Delhi.

Baca Juga : Jauh-jauh ke Indonesia Demi Meminang Gadis Pujaan, Cinta Pria Asal India ini Ditolak    

"Dalam kasus kami, kami mengatakan kepada pemilik rumah bahwa kami telah bertunangan. Salah satu faktor yang memaksa kami untuk mempertimbangkan untuk segera menikah adalah karena akan lebih mudah untuk menemukan rumah," katanya.

Hidup serumah tanpa ikatan pernikahan sebenarnya legal di India, tetapi para anggota parlemen sering kali mengecam ide tersebut.

Tahun lalu, India dicekam oleh kisah pembunuhan mengerikan di New Delhi.

Baca Juga : Lupa, 55 Penumpang GoFirst Airways Ditinggal Terbang

Pada November 2022, polisi menemukan Aftab Poonawala (28) mencekik pasangannya, Shraddha Walker, hingga tewas.

Tidak berhenti di situ, Poonawala memutilasi tubuh Walker menjadi beberapa bagian dan menyimpannya di dalam kulkas sebelum menyebarkan potongan tubuh tersebut ke seluruh kota.

Setelah Poonawala ditangkap, pembicaraan publik dengan cepat beralih dari keselamatan perempuan menjadi perdebatan tentang apakah perempuan harus terlibat dalam hubungan "tinggal serumah" atau tidak.

Baca Juga : India Resmi Jadi Ketua G20, Isu Iklim Jadi Fokus Utama

Beberapa hari setelah aksi pembunuhan ini terungkap, Menteri Negara Perumahan dan Perkotaan India, Kaushal Kishore, mengeluarkan pernyataan pers yang mempertanyakan karakter Walker.

Kishore berpendapat bahwa pilihan untuk "hidup bersama" sebelum menikah itulah yang menyebabkan terjadinya aksi kejahatan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa "gadis-gadis yang berpendidikan seharusnya tidak terlibat dalam hubungan seperti itu."

India tidak memiliki undang-undang yang secara langsung mengatur tentang pasangan yang tinggal bersama sebelum menikah.

Baca Juga : Guru SMA Rela Operasi Ganti Kelamin untuk Nikahi Murid Perempuannya

Konsep hubungan live-in atau hidup bersama itu diakui secara hukum untuk pertama kalinya pada 2010, saat India menyatakan bahwa perempuan yang berada dalam hubungan tersebut dilindungi di bawah hukum kekerasan dalam rumah tangga.

Setelah 12 tahun berselang, Mahkamah Agung (MA) India memperkuat legitimasi hubungan live-in tersebut dengan mengakui bahwa anak-anak yang lahir dari hubungan ini tetap berhak atas hak-hak di bawah perjanjian pengasuhan bersama, serta memiliki hak untuk mewarisi properti.

Pengadilan tinggi juga menegaskan bahwa jika "dua orang dewasa yang memiliki jenis kelamin yang berbeda" memilih untuk tinggal bersama, maka hal itu "tidak dianggap sebagai pelanggaran hukum."

Pernyataan-pernyataan ini berakar pada gagasan konstitusional bahwa "tidak ada orang yang dapat dirampas nyawanya" bahkan "kebebasan pribadinya."

Namun, seorang pengacara yang berbasis di Delhi, Shreya Munoth, menjelaskan bahwa meskipun MA mengambil beberapa posisi progresif, banyak hakim India yang justru berporos pada pedoman moral mereka sendiri ketika menangani kasus-kasus pasangan tinggal serumah.

"Masalahnya adalah setiap perintah yang dikeluarkan terkait hubungan tinggal bersama itu sepenuhnya bergantung pada penilaian moral dari hakim yang mengadili kasus tersebut," kata Munoth, seraya menambahkan bahwa "hal ini menjadi masalah besar dalam kasus-kasus di mana pasangan mencari perlindungan dari negara."

Misalnya kasus pada Oktober 2023, pengadilan menolak memberikan perlindungan polisi kepada pasangan yang mengatakan bahwa mereka merasa tidak aman setelah keluarga perempuan mengajukan kasus terhadap laki-laki karena dianggap telah "menculik" anak perempuan mereka.

Pengadilan mengatakan bahwa pasangan tersebut tidak dapat dianggap serius, kecuali mereka "memutuskan untuk menikah."

Para hakim yang mengadili kasus ini kemudian menyebut hubungan tinggal bersama sebagai hubungan percintaan belaka, di mana cenderung "tidak memiliki stabilitas" dan "ketulusan".

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected] atau Whatsapp 0811892345. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar