Siswa Pertegas Tak Ada Pungli di SPN Batua: Keluarga Salah Paham saat Saya Minta Uang
Terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan orang tua di Papua saat meminta uang tambahan.
PORTALMEDIA. ID, MAKASSAR- Siswa Sekolah Polisi Negara (SPN) Batua, Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), asal Papua Barat berinisial YSL (20) angkat bicara terkait dugaan pungutan liar (Pungli) di lingkup SPN yang menyebutkan dirinya sebagai korban.
Ditemui wartawan di SPN Batua, Jl Urip Sumoharjo, Panakkukang, Kota Makassar, pada Sabtu malam (28/10/2023), YSL pun membantah adanya pungli itu.
Menurutnya, terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan orang tua di Papua saat meminta uang tambahan dalam program resimennya.
Baca Juga : Polda Sulsel Kirim 10 Ton Ikan Kering untuk Korban Bencana di Aceh
"Jadi tidak ada sama sekali itu pungli. Keluarga mungkin kurang paham yang saya sampaikan lewat telpon makanya ada salah komunikasi," kata YSL.
"Itu (uang tambahan) semuanya yang saya minta dari program resimen kami dari siswa untuk siswa," sambungnya.
Yusril menjelaskan, uang yang dia minta untuk keperluannya itu, nantinya digunakan mulai dari permak baju PDL sebanyak enam pasang yang diberi secara cuma-cuma dari Polri, hingga jajannya.
Baca Juga : Polda Sulsel Turunkan Anjing Pelacak K-9 Percepat Pencarian Korban Pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung
"Saya minta uang empat kali, pertama uang kebutuhan nutrisi karena cuaca lagi panas. Ada uang permak, atribut (emblem) di baju PDH, saya punya enam baju yang dibagikan gratis tapi itu besar makanya kami ada senat kita kumpul di situ untuk permak pakaian untuk dipakai pendidikan," terang YSL.
Tidak hanya itu, uang yang diminta YSL ke orangtuanya di Papua diakuinya juga untuk keperluan jajan saat Latihan Kerja (Latja) nantinya.
"Uang yang saya minta itu juga saya pakai biaya belanja, uang 5 juta itu saya kumpulkan untuk resimen, 2 juta untuk belanja pribadi persiapan Latja (latihan kerja) yang nanti satu bulan di Polres-polres," jelasnya.
Baca Juga : Identifikasi Korban Pesawat ATR 400, Polda Sulsel Siapkan Tim DVI
Terpisah, ibu YSL, Nur (45) mengaku saat anaknya meminta uang tambahan tersebut tidak menjelaskan secara detail tujuan dan peruntukannya.
Dirinya pun mengaku sempat salah paham akibat, permintaan sang anak yang tidak menjelaskan secara gamblang maksud dan tujuannya.
"Memang begitu anaknya, bicara kalau dia minta uang langsung minta dan tidak bilang uang itu untuk apa, makanya keluarga juga bingung waktu dia mau minta lagi. Jadi itu kemarin pas ini sudah ramai baru dijelaskan untuk apa saja itu uang," ucap Nur.
Baca Juga : Perkuat Sinergi Aparat dan Warga, Wali Kota Makassar Sambut Program FKPM Ditbinmas Polda Sulsel
"Jadi tidak benar itu (pungli), itu hanya uang tambahan yang digunakan anak saya. Dia memang sudah lama mau jadi polisi, jadi kita orang tua ini harapkan saja biar dia lulus dan mengabdi nanti," sambungnya melalui telepon.
Sementara itu, Komandan Pleton (Danton) Siswa SPN Batua, Iptu Rivai menjelaskan, banyak kebutuhan siswa yang tak semua ditanggung oleh Polri.
Seperti permak baju dinas, uang jajan harian dan makan minum tambahan.
Baca Juga : Polda Sulsel Kerahkan 100 Personel Brimob Dalam Misi Kemanusiaan Penanganan Bencana Sumatera
"Kita harus akui kebutuhan siswa dari sepatu dan baju untuk digunakan pada saat selesai pendidikannya untuk kebutuhan mereka yang tidak didukung (penuh) dengan anggaran," terang Rivai.
"Kemudian foto, buku memory, acara ramah tama tidak ditanggung, termasuk cukur rambut, jadi kita ambilkan tukang cukur dan tukang permak. Itu baju harus memang dipermak karna saat pendidikan ukurannya besar," sambungnya.
Rivai menambahkan, terkait program dari siswa untuk siswa ini dikelolah oleh resimen siswa sendiri.
Dalam resimen siswa itu, semuanya diatur secara independen oleh siswa SPN.
"Jadi resimen siswa itu kurang lebih kayak senat Mahasiswa atau OSIS di sekolah yang posisinya kita sebagai guru ini tidak ikut campur. Mau dia buatkan agar angkatannya keren itu urusannya, seperti nanti setelah ini siswa lulus buat acara perpisahan kita tidak ikut campur, dia yang patungan dan dia yang menikmatinya sendiri," jelasnya.
Diketahui, dalam pendidikan SPN Batua di tahun 2023 diikuti 714 siswa dari beberapa provinsi, seperti Yusril dari Papua Barat.
Dan proses pendidikan di SPN Batua berlangsung selama 5 bulan, dan berakhir Desember ini.
Sebelumnya, diberitakan tante YSL, NS (38) asal Papua Barat mengeluhkan adanya biaya tambahan yang diduga diminta dari oknum SPN lewat YSL untuk pembayaran seragam atau PDL.
Permintaan biaya tambahan itu diminta sebanyak 3 kali, pertama Rp 5,3 juta, lalu Rp 1,3 juta dan Rp 7 juta. Tapi keluarga YSL hanya sanggupi permintaan 1 dan 2.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News