Pemberian Suntik Booster untuk Anak Sekolah Masih Dikaji Kemenkes
Pemerintah pusat belum berencana memberikan suntik vaksin Booster kepada pelajar SD di Indonesia,
PORTALMEDIA.ID, JAKARTA- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih melakukan kajian terhadap pemberian suntik booster untuk anak sekolah di Indonesia, sebelum nantinya diberikan kepada anak sekolah yang duduk di bangku SD.
Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril mengungkapkan untuk saat ini pemerintah masih fokus memberikan booster pertama atau vaksin dosis ketiga pada kriteria usia 18 tahun ke atas. Selain itu, vaksin anak sekolah menurutnya masih perlu menunggu kajian lebih lanjut.
"Vaksin booster anak-anak masih kajian," kata Syahril. "Sekarang ini prioritas kita adalah booster pertama atau vaksin ketiga untuk seluruh masyarakat. Karena capaian kita baru 28 persen kurang lebih, kan kita minimal 50 persen. Jadi tolong disampaikan risiko ini kepada masyarakat," kata dia sebagaimana dikutip di laman CNN Indonesia.
Baca Juga : Kasus Covid-19 Meningkat, Kemenkes Imbau Jemaah Haji Waspada dan Jaga Kesehatan
Syahril kemudian meminta agar orang tua dan pihak sekolah tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan Covid-19 serta menjalani Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai sikap dan upaya mitigasi mencegah penularan Covid-19 pada anak-anak.
"Juga harus diawasi oleh sekolah sendiri termasuk mengawasi kantin-kantin di sekolah, karena sekarang tidak hanya Covid-19 kan, ada ancaman hepatitis misterius dan sebagainya," katanya.
Syahril kemudian mengungkapkan alasan Kemenkes belum memulai vaksinasi booster pertama bagi target sasaran remaja usia 16-18 tahun di Indonesia, kendati Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah memberikan izin darurat penggunaan (EUA) vaksin Pfizer untuk usia remaja pada 2 Agustus lalu.
Baca Juga : Neymar Positif Covid-19
Ia menyebut operasional vaksin remaja di lapangan lebih sulit dari kategori usia lainnya lantaran rentang usianya lebih sempit. Selain itu, EUA yang diberikan BPOM terhadap vaksinasi booster remaja hanya mengizinkan vaksin homolog atau sejenis. Sementara menurutnya 90 persen remaja mendapatkan vaksin Sinovac.
"Yang dikeluarkan oleh BPOM itu hanya satu merek kan, sebut saja itu Pfizer. Sementara yang sudah banyak kita lakukan ini di luar itu. Sehingga kita tunggu saja, kita lagi mencari pola agar win-win solution semua," ujar Syahril.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News