Kasus DBD di Sulsel Meningkat, Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kewaspadaan

ist

Ishaq Iskandar menyebutkan jumlah kasus DBD di Sulsel sebanyak 1.620 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak sembilan orang.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Dinas Kesehatan Sulsel bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel dengan pemerintah kabupaten dan kota, terus berkoordinasi guna mengantisipasi lonjakan kasus demam berdarah dengeu (DBD) yang terjadi di Sulsel awal tahun 2024.

Hal ini diketahui, setelah Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, M Ishaq Iskandar menyebutkan jumlah kasus DBD di Sulsel sebanyak 1.620 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak sembilan orang yang terjadi di enam kabupaten, yaitu Kabupaten Enrekang, Maros, Soppeng, Bantaeng, Bulukumba, Toraja Utara dan Pangkep.

Data tersebut diakumulasi sejak Januari hingga pekan ketiga April 2024.

Baca Juga : Dinkes Sulsel Siagakan Tim Medis di Pos Terpadu Nataru 2025-2026

"Jumlah kasus tersebut bersumber dari laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) secara kumulatif sampai pekan ke-13 sebanyak 372 suspek," ungkap Ishaq, Minggu (21/4/2024).

Dia menekankan agar masyarakat mewaspadai kasus DBD di Sulsel yang diprediksi akan mengalami peningkatan, mengingat musim hujan sejauh ini masih berlangsung di sejumlah daerah.

"Kita memprediksi, akan terus mengalami peningkatan. Karena memang, sejak Januari hingga April terjadi peningkatan, itu karena terjadi perubahan musim. Adanya intensitas curah hujan meningkat sejak awal Januari hingga April tahun lalu," jelas Ishaq.

Baca Juga : Dinkes Sulsel Temukan 333 Petugas Alami Gangguan Kesehatan di Pilkada 2024

Menurut Ishaq, dengan tidak meratanya curah hujan, mengakibatkan bibit nyamuk Aedes Aegypti cepat berkembang biak, sehingga penyebaran DBD mudah berkembang. Adapun penyebaran virus yang dibawa nyamuk ini sangat rentan terjadi di pagi serta sore hari.

Oleh karena itu, untuk menekan penambahan kasus, pihak terkait bahkan mendistribusikan sarana diagnostik (RDT), bahan pengasapan (fogging), termasuk larvasida atau abate ke Dinkes kabupaten dan kota.

Beragam sosialisasi juga dilakukan, seperti gerakan 3M, yakni menguras tempat penampungan air, menutup wadah yang ditempati air, termasuk menguburkan barang bekas yang menampung air dan tempat lain yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru