Merdeka di Mata Andi Tenri Uji; Perempuan Berhak Bahagia dan Menentukan Pilihan
Owner dari Madeena Scarves ini memandang kemerdekaan adalah kebebasan bagi perempuan untuk melakukan hal-hal yang membuat mereka bahagia.
PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR – Merdeka menurut sebagian besar orang adalah kebebasan. Bebas melakukan apapun yang diinginkan. Punya hak dalam berekspersi, berinovasi, dan menuangkan pendapat.
Tak terkecuali Andi Tenri Uji. Owner dari Madeena Scarves ini memandang kemerdekaan adalah kebebasan bagi perempuan untuk melakukan hal-hal yang membuat mereka bahagia.
"Merdeka bagi saya adalah kebebasan bagi kita (perempuan) untuk bisa melakukan apapun, tanpa melupakan kodrat sebagai istri, ibu, dan tentunya perempuan itu sendiri,"kata Wita sapaan Andi Tenri Uji saat dihubungi Portal Media, Rabu (17/8/2022).
Baca Juga : PKL Barombong Ditertibkan, Andi Tenri UjI Tagih Janji Relokasi dan Pembangunan Pasar ke Pemkot Makassar
Maksudnya, lanjut Wita, perempuan bisa melakukan apapun yang mereka inginkan, asal tugas dan fitrahnya sebagai perempuan dijalankan lebih dahulu.
"Jangan sampai merasa merdeka, yang diutamakan kebahagiaannya. Semaunya melakukan sampai lupa kalau punya suami dan anak. Ini namanya egois,"ucap Wakil Bendarara PDI Perjuangan Makassar ini.
Olehnya, Wita berharap seluruh perempuan di Hari Kemerdekaan ini, bisa lebih memahami dan memaknai apa arti kemerdekaan yang sesungguhnya.
Baca Juga : PSI Berambisi Kuasai Basis PDIP, Hasto: Masih Terlalu Dini
"Tak perlu luas, cukup dimulai dari diri sendiri dan keluarga,"ujarnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan pandangannya tentang Kemerdekaan Indonesia yang saat ini berusia 77 tahun bagi perempuan dalam artian luas.
Menurutnya, sampai saat ini masih banyak perempuan yang mengalami kekerasan dan diskriminasi. Karena itu, perempuan di akar rumput kini bangkit mendobrak budaya patriarki.
Baca Juga : Keluarkan Surat Edaran, PDIP Ingatkan Kader Tidak Salah Gunakan Wewenang
"Merdeka adalah sensitif terhadap isu perempuan yang menghambat kemajuan perempuan. Dalam situasi krisis toleransi, bagaimana perempuan muda harus menumbuhkan rasa menghargai dan menghormati segala perbedaan, suku, agama, dan ras. Mari merdekakan perempuan dan ciptakan perdamaian,”tegas Wita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News