Raja dan PM Spanyol Dilempari Lumpur saat Kunjungi Lokasi Banjir Bandang

IST

Banjir mulai memenuhi Paiporta dengan gelombang yang menghancurkan ketika pejabat daerah mengeluarkan peringatan ke telepon seluler yang berbunyi dua jam terlambat.

PORTALMEDIA.ID, SPANYOL -- Kunjungan Raja Spanyol Felipe VI dan pejabat tinggi pemerintah di wilayah terdampak banjir terparah, Valencia tampaknya tidak disambut dengan ramah oleh warga setempat.

Orang-orang melemparkan lumpur ke arah Raja Felipe dari Spanyol saat ia pertama mengunjungi Paiporta, dekat Valencia, Spanyol pada Minggu, (03/11/2024).

Polisi harus turun tangan dengan beberapa petugas berkuda menahan puluhan orang yang melemparkan lumpur dan mengacungkan sekop serta tongkat ke udara.

Baca Juga : 13 Orang Meninggal Dunia Akibat Banjir Bandang Landa Kota Ternate

"Keluar! Keluar!” dan “Pembunuh!” teriak para warga di antara hinaan lainnya.

Pengawal membuka payung untuk melindungi para bangsawan dan pejabat saat para pengunjuk rasa melemparkan lumpur ke arah mereka.

Saat dipaksa pergi dari lokasi itu, raja dengan bercak-bercak lumpur di wajahnya, tetap tenang dan berusaha beberapa kali untuk berbicara dengan penduduk setempat. Satu orang tampak menangis di bahunya. Ia menjabat tangan seorang pria.

Baca Juga : Aksi Peduli Lantamal VI Makassar, Kirim Bantuan Logistik Buat Korban Bencana di Wajo

Itu adalah insiden yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Keluarga Kerajaan yang sangat berhati-hati untuk menciptakan citra seorang raja yang disukai oleh bangsa.

Namun kemarahan publik atas manajemen krisis yang serampangan itu memuncak pada hari Minggu, 3 November 2024.

Menurut penyiar Spanyol RTVE, Perdana Menteri Pedro Sánchez juga dievakuasi dari lokasi kejadian, ketika kontingen resmi mulai berjalan di jalan-jalan Paiporta yang tertutup lumpur.

Baca Juga : Gunakan Helikopter, TNI AU Berhasil Evakuasi 143 Korban Banjir di Luwu

Ratu Letizia dan Presiden regional Valencia Carlo Mazón juga berada dalam kontingen tersebut. Ratu juga berbicara kepada para wanita dengan gumpalan kecil lumpur di tangan dan lengannya. "Kami tidak punya air," kata seorang wanita kepada ratu.

Banyak orang masih tidak memiliki air minum lima hari setelah banjir melanda. Paiporta, yang berpenduduk 30.000 jiwa, masih memiliki banyak blok kota yang sepenuhnya tersumbat oleh tumpukan sampah, banyak mobil yang hancur total, dan lumpur.

Lebih dari 200 orang tewas akibat banjir sejak Selasa, 29 Oktober. Kemudian ribuan orang rumahnya hancur oleh air dan lumpur. Kemarahan warga terhadap manajemen bencana alam tersebut dimulai setelah guncangan awal mereda.

Baca Juga : Lantamal VI Makassar Salurkan Bantuan Logistik ke Korban Banjir dan Longsor di Luwu

Banjir mulai memenuhi Paiporta dengan gelombang yang menghancurkan ketika pejabat daerah mengeluarkan peringatan ke telepon seluler yang berbunyi dua jam terlambat.

Dan kemarahan yang lebih besar telah dipicu oleh ketidakmampuan pejabat untuk menanggapi dengan cepat setelah kejadian. Sebagian besar pembersihan lapisan demi lapisan lumpur dan puing yang telah menyerbu banyak rumah telah dilakukan oleh penduduk dan ribuan relawan.

Namun setelah sekitar setengah jam ketegangan, keluarga kerajaan masuk ke mobil dinas dan pergi dengan pengawalan polisi berkuda.

Baca Juga : Pertamina Regional Sulawesi Salurkan Bantuan Korban Banjir di Kabupaten Luwu

Seorang wanita memukul mobil dinas dengan payung, dan yang lain menendangnya, sebelum mobil itu melaju kencang.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru