Terkait Kisruh Internal Golkar, IAS Bingung Dikaitkan dengan Niatnya Maju Pilgub
Kembalinya salah-satu mantan kader Golkar yaitu Ilham Arief Sirajuddin (IAS) ke partai beringin ini dianggap sebagian orang semakin menaikkan tensi yang sudah tinggi di kisruh internal partai berlambang beringin tersebut.
PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Kisruh di tubuh Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) tak kunjung menemui titik terang. Perseteruan antara kubu Taufan Pawe dan Nurdin Halid bahkan sudah sampai di ranah Hukum.
Bahkan, pulangnya salah-satu mantan kader Golkar yaitu Ilham Arief Sirajuddin (IAS) ke partai beringin ini dianggap sebagian orang semakin menaikkan tensi yang sudah tinggi di kisruh internal partai berlambang beringin tersebut. Hal ini dikarenakan IAS memiliki keinginan yang sama dengan Ketua DPD I Partai Golkar, Taufan Pawe (TP) yaitu kursi Gubernur Sulsel.
Menanggapi hal itu, Ilham Arief Sirajuddin angkat bicara. Menurutnya, Taufan Pawe sendirilah yang pertama mengajaknya masuk ke Partai Golkar.
Baca Juga : DPR Dorong Grand Design Terpadu Pemulihan Aceh–Sumatera Pasca Bencana
"Pertama gak nyambung, yang ngajak pertama saya masuk ke Golkar itu waktu (Saya masih) di Demokrat itu Taufan pawe. Taufan Pawe itu dua jam dirumah (berdiskusi), masih ada fotonya, datang ke rumah," ungkap Aco sapaan IAS ketika ditemui Portal Media, Selasa (30/8/2022).
Saat disambangi, IAS mengaku bercerita kepada TP saat dulu dirinya memimpin Partai Golkar. Ia mengatakan Golkar memiliki basis massa tradisional yang ketika reformasi ia sebut tertidur lelap.
"2008 saya ketua Golkar, saya tau tokoh A, B , C ini orang Golkar lama, kalau kita kembali lagi bersejarah, sejarah yg lama, maka dimanapun tokoh politik yang ada sekarang ini pasti base-nya Golkar, Mau PAN, dll," bebernya.
Baca Juga : Ditemui IAS di Jakarta, Nurdin Halid: Kita Dukung Seluruh Kader Besarkan Partai
Menurut mantan Walikota Makassar ini, suara dari Gerindra, Nasdem dan Hanura ketika ditotalkan, jumlahnya hampir sama dengan suara Golkar sebelum reformasi.
"Kalau begitu ini pecahannya Golkar semua, saya bilang Taufan Pawe saya tidak sungkan-sungkan, kalau si anu saya datangi tokoh, saya cium tangan, gak papa. Saya bisa mempertahankan 31 kursi dari 38 pasca reformasi, kemudian berganti pak Syahrul, pas Syahrul tinggal 18 kursi dengan jabatan gubernur, periode pertama. Periode kedua tinggal 16 kursi. Periode ketiga 2019, pak Nurdin tokoh nasional, itu tinggal 13 kursi, ini rawan saya bilang pak ketua, kita hadapi kedepan, yang perlu kita adakan Konsolidasi,"bebernya.
Mendengar hal itu, sontak Taufan Pawe berkata kepada Aco "Makanya saudaraku gabung maki sini sama-sama semua,"tutur Aco menirukan TP.
Baca Juga : DPR Proyeksikan IKN Berfungsi Penuh sebagai Pusat Pemerintahan 2028
Tak hanya TP, kehadiran IAS di Golkar juga atas dasar ajakan Nurdin Halid. Pasca dijegal oleh Ni'matullah sebagai Ketua Demokrat Sulsel, IAS memilih berkonsultasi dengan sejumlah kader Golkar, salah-satunya Nurdin Halid. Senada dengan TP, NH membujuk IAS agar kembali kepangkuan partai beringin tersebut.
Namun saat ditanyakan terkait kisruh yang terjadi antara TP dan NH, IAS mengaku tak tahu apa-apa.
"Nah, kalau ditanya terkait pertikaian mereka saya tidak tau tidak tau ada apa," tegasnya.
Baca Juga : Golkar Dorong Evaluasi Pilkada Langsung
Namun, IAS merasa heran dengan sikap Taufan Pawe yang saat ini dingin kepadanya. Padahal awal masuknya ke Golkar, salah satunya atas ajakan Walikota Parepare tersebut.
"Saya masuk karena diajak pak TP. Tapi kenapa sekarang kalau ketemu saya kayak ada sesuatu yang mengganjal? Mungkin pak Taufan ini Baperan orangnya,"ucapnya.
Padahal, lanjut IAS, dirinya tak berniat menjadi Ketua Golkar Sulsel. Namun terkait dengan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel, kata dia terdapat sejumlah mekanisme yang salah satunya tidak harus menjabat sebagai ketua.
Baca Juga : Komisi II Dorong Bank Sulselbar Perkuat Transformasi Digital dan Tata Kelola
"(Saya bilang ke TP) pak Taufan jangan maki pikir yang macam-macam dulu, kita pikir bagaimana sekarang kita menangkan Golkar ini, kalau kita menang signifikan, kan bisa Golkar-Golkar lari, kan gak papa, nanti kita pikirkan siapa jadi gubernur siapa yang wakil gubernur," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News