Gerindra Resah Sandi Ikut Nyapres, Pengamat: 2024 Peluang Terakhir Prabowo
Jika Sandi ikut kontestasi Pilpres 2024, maka mayoritas dukungan emak-emak dan milenial akan tetap kepadanya.
PORTALMEDIA.ID,JAKARTA- Pernyataan sikap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno yang mengaku siap maju sebagai calon presiden(Capres) 2024 menjadi menuver yang cukup menghebohkan pertarungan Pilpres 2024.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menganalisa manuver Sandi mengusik petinggi dan sebagian kader Gerindra. Bahkan, ada yang menyuarakan agar eks Wakil Gubernur DKI itu sebaiknya mundur dari Gerindra.
Padahal, Sandiaga merupakan salah satu Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Begitupun ada sindiran pedas sejumlah elite Gerindra yang diduga ditujukan ke Sandi.
Baca Juga : Kunjungi Dua Gereja di Malam Natal, Fadel Ajak Masyarakat Bangun Semangat Solidaritas Antarumat Beragama
"Respons tersebut mengindikasikan adanya kegelisahan petinggi dan sebagian kader Gerindra atas manuver Sandi. Bagi mereka, manuver Sandi dapat menghalangi Ketua Umumnya Prabowo Subianto untuk memenangkan kontestasi Pilpres 2024," kata Jamiluddin,dikutip di VIVA pada Sabtu, 3 September 2022.
Dia menilai keresahan elite Gerindra wajar. Merujuk Pilpres 2019, banyak emak-emak dan milenial jadi barisan pendukung Sandi. Menurutnya, jika Sandi ikut kontestasi Pilpres 2024, maka mayoritas dukungan emak-emak dan milenial akan tetap kepadanya.
"Hal itu tentunya akan mengurangi dukungan kepada Prabowo.Padahal, bagi Gerindra, Pilpres 2024 menjadi kesempatan terakhir bagi Prabowo untuk menggenggam impiannya menjadi presiden," jelas Jamiluddin
Baca Juga : Sanksi Politik! Gerindra Copot Bupati Aceh Selatan Mirwan MS yang Nekat Umrah di Tengah Bencana
Kemampuan Logistik
Bagi dia, jika Sandi maju nyapres atau cawapres dengan diusung partai lain, maka peluang Prabowo menang akan makin kecil. Dia mengatakan demikian karena kesiapan Sandi sudah pasti tidak dikehendaki Gerindra, termasuk tentunya oleh Prabowo.
Menurut dia, Sandi masih punya nilai jual untuk jadi capres atau cawapres. Dia memiliki elektabilitas yang lumayan bagus dan didukung relawan yang tersebar di pelosok tanah air. Sandi juga diketahui punya keuangan logistik untuk maju di Pilpres.
Baca Juga : Prabowo Ajak Kader Gerindra Jadikan Kekuasaan Sebagai Alat Perjuangan Bangsa
"Bahkan jaringan yang dibentuknya pada Pilpres 2019, tinggal dihidupkan. Jaringan yang besar dan tersebar se Indonesia menjadi kekuatan dan modal besar bagi Sandi untuk ikut Pilpres 2024," tutur Jamiluddin.
Bukan Skenario
Jamiluddin menduga manuver Sandi bukan skenario Gerindra untuk mendongkrak elektabilitas di Pemilu 2024. Dia mengatakan demikian karena melihat reaksi dari internal Gerindra yang resah terhadap Sandi yang siap nyapres.
Baca Juga : Situasi Dalam Negeri Memanas, Prabowo Batalkan ke China
Bagi dia, kekompakan Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 yang berujung moncernya elektabilitas Gerindra tak bisa jadi acuan. Menurut dia, saat 2019, Sandi dipilih Prabowo karena diduga punya kelebihan dari sisi kapital.
"Dari banyak nama yang masuk, nama Sandi yang paling layak kapitalnya. Saat itu, masalah kapital sangat diperlukan mengingat dukungan dana dari Prabowo belum mencukupi untuk bertarung dalam kontestasi Pilpres," jelas Jamiluddin.
Dia menganalisa sulit Prabowo bisa memainkan skenario itu untuk melambungkan Sandi. Meski dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi. Ia hanya menekankan jika benar Sandi nyapres dan diusung parpol lain maka akan jadi kerugian bagi Gerindra.
Baca Juga : Ahmad Muzani Soal Putusan MK: Pemilu Dipisah Cenderung ke Sistem Federal, Bukan Negara Kesatuan
"Sebab, Gerindra sudah terikat dengan PKB bahwa soal capres dan cawapres haruslah persetujuan kedua partai. Karena itu, sulit kiranya bagi Gerindra dan Prabowo untuk mengulang skenario yang sama," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News