Tony Blair Mantan PM Inggris Jadi Dewan Pengawas Danantara

Mantan perdana menteri Inggris Sir Anthony Charles Lynton Blair atau Tony Blair akan menjadi salah satu dewan pengawas Danantara.

Presiden Prabowo telah meluncurkan BPI Danantara setelah menandatangani tiga aturan baru

PORTALMEDIA.ID, JAKARTA -- Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani menyebut mantan perdana menteri Inggris Sir Anthony Charles Lynton Blair atau Tony Blair akan menjadi salah satu dewan pengawas Danantara.

"Iya salah satunya (Tony Blair)," kata Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (24/2).

Sebelumnya, Presiden Prabowo telah meluncurkan BPI Danantara setelah menandatangani tiga aturan baru pada Senin di Istana Negara.

Baca Juga : DPR Soroti Investasi Rp20 Triliun PTPN III dalam Penguatan Pangan

Salah satunya Undang-undang (UU) Nomor 1 Tahun 2025 tentang BUMN di Istana Kepresidenan. Kemudian, Prabowo juga menandatangani PP Nomor 10 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara.

Lalu, Prabowo juga Keppres Nomor 30 Tahun 2025 tentang pengangkatan Dewas dan Badan Pelaksana Danantara.

Rosan dibantu oleh Dony Oskaria dan Pandu Sjahrir sebagai badan pelaksana BPI Danantara. Dony menjadi Chief Operating Officer BP Danantara dan Pandu sebagai Chief Investment Officer BP Danantara

Baca Juga : DPR RI Tetapkan Danantara Jadi Mitra Kerja Komisi VI dan XI, Bahas Subsidi hingga BUMN


Siapakah Tony Blair? Ia merupakan Mantan Perdana Menteri Inggris yang paling lama menjabat, yakni periode 1997-2007. Dikutip dari situs resmi pemerintah UK, satu dekade menjabat, Blair telah mengawasi proses perdamaian Irlandia Utara, reformasi publik, dan menanggapi serangan teroris 9/11 dan 7/7.

Anthony Blair lahir pada tanggal 6 Mei 1953 di Edinburgh. Setelah menempuh pendidikan di Universitas Oxford, Ia menjadi pengacara dan pada tahun 1983 terpilih sebagai anggota parlemen Partai Buruh untuk Sedgefield.

Blair segera dikenal sebagai anggota kelompok 'modernis' partai yang sadar diri (yang juga mencakup Gordon Brown dan Peter Mandelson), yang berusaha membuat Partai Buruh lebih dapat diterima oleh para pemilih dengan menolak hubungannya dengan serikat pekerja, pelucutan senjata nuklir sepihak, kepemilikan publik, dan pajak yang tinggi.

Baca Juga : Dari Nikel ke Rumput Laut, Danantara Fokus Investasi dengan Risiko Terukur

Lalu menyusul kematian mendadak pemimpin saat itu John Smith pada tahun 1994, Blair menjadi pemimpin Partai Buruh setelah Gordon Brown mengundurkan diri untuk menghindari perpecahan suara pro-modernisasi dalam pemungutan suara kepemimpinan.

Blair dengan cepat memperoleh otoritas yang tidak perlu dipertanyakan lagi sebagai pemimpin, yang selanjutnya ditegaskan oleh kemenangan telak Partai Buruh dalam pemilihan umum tahun 1997. Pada usia 43 tahun, ia adalah perdana menteri termuda sejak Lord Liverpool pada tahun 1812.

Ia berusaha untuk mempromosikan citra Inggris yang muda dan modern yang dilambangkan oleh BritPop, BritArt, dan Millennium Dome. Beberapa kebijakan dikenal radikal, khususnya terkait reformasi konstitusi yang memberikan ukuran pemerintahan sendiri ke Wales dan Skotlandia.

Baca Juga : Presiden Prabowo Tegaskan Tidak Ada Orang Titipan di Manajemen Danantara

Namun janji untuk mereformasi layanan publik ternyata kurang mudah dilaksanakan, Blair terpilih kembali pada tahun 2001. Di masa jabatannya yang kedua ini dia lebih bermasalah dan diwarnai keretakan hubungannya Kanselir Gordon Brown.

Pada tahun 2002-2003 Blair mempertaruhkan otoritas pribadinya dengan mendukung "perang melawan teror" pemerintah AS, meskipun ada keresahan serius di partainya sendiri dan di antara masyarakat luas.

Kemudian Blair terpilih kembali pada tahun 2005, dalam masa jabatan ketiga berturut-turut yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi perdana menteri Partai Buruh. Pada tahun yang sama ia memimpin KTT G8 di Gleneagles dan berfokus pada dua isu - perubahan iklim dan Afrika - yang telah menjadi prioritas baginya.

Blair mengundurkan diri pada bulan Juni 2007 dan digantikan sebagai perdana menteri oleh Gordon Brown. Blair dan sekutunya berhasil membuat Partai Buruh dapat dipilih kembali, setelah hampir dua dekade beroposisi.

Bagi para pengkritiknya, pencapaian ini dicapai dengan mengorbankan prinsip-prinsip partai. Bagi para pendukungnya, ia adalah orang yang bersedia mengambil risiko ketidakpopuleran publik dalam mengejar kebijakan (terutama perang di Irak) yang menurutnya dapat dibenarkan secara moral. Blair pernah mengunjungi Jakarta pada 29 Maret 2006.

Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama oleh Perdana Menteri Britania Raya ke Asia Tenggara dalam 21 tahun terakhir. Perdana Menteri Britania Raya terakhir yang mengunjungi Jakarta adalah Margaret Thatcher pada 1985.
Selanjutnya bukan kali ini nama Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, erat kaitannya dengan apa yang dilakukan pemerintah Indonesia. Sebelumnya Tony Blair diminta bantu promosikan IKN ke dunia internasional. Diberitakan sebelumnya, Blair menilai IKN adalah wujud dari semangat Indonesia.

Inti dari kemajuan negara manapun adalah semangatnya dan dia melihat semangat Indonesia saat ini adalah semangat inovasi.

"Ini adalah tempat di mana hari ini orang ingin melihat sesuatu dilakukan dan ibu kota ini (IKN) bisa menjadi personifikasi dari perwujudan semangat itu," kata Blair dalam acara Market Sounding IKN di Ballroom Djakarta Theater XXI, Selasa (18/10/2022) silam. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru