Sama-sama Wadahi Remaja, ini Dia Sikola Mangkasara: Versi lain dari Markas Batalyon 120
Jika Markas Batalyon 120 bentukan Wali Kota Makassar nampak gagal sebagai wadah pembinaan remaja, maka hal ini berbeda dengan Singkola Mangkasara. Kehadirannya juga sebagai wadah, namun dengan pendidikan yang mengarah pada peningkatan dan menggali potensi remaja di Makassar.
PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Jika Markas Batalyon 120 bentukan Wali Kota Makassar nampak gagal sebagai wadah pembinaan remaja, maka hal ini berbeda dengan Singkola Mangkasara. Kehadirannya juga sebagai wadah, namun dengan pendidikan yang mengarah pada peningkatan dan menggali potensi remaja di Makassar.
Namanya lembaganya adalah Sikola Mangkasara. Jika sepintas bagi yang bukan berdarah Makassar, tentu tak tahu maknanya. Dari namanya, memang diambil dari bahasa Makassar.
Namun, Sikola di sini bukan seperti sekolah pendidikan umumnya, tetapi Sikola Mangkasara hadir sebagai lembaga pemberdayaan yang berpotensi untuk meningkatkan dan menggali potensi anak dan remaja di Makassar.
Baca Juga : Terancam Dibubarkan, Ini Deretan Kasus Kriminal yang Libatkan Anggota Ormas B120 Makassar
Kehadirannya sebagai bentuk keprihatinan melihat banyaknya anak-anak yang kurang mampu atau dengan ekonomi rendah. Mereka dirangkul dan dibina dalam program yang dibuat oleh sikola mangkasara.
Menurut Sri Rahmi Founder Sikola Mangkasara, sejak hadirnya 2008 lalu, lembaga ini sudah bisa memberikan manfaat besar bagi anak-anak yang bermukim di jalan Rappokalling Makassar.
"Mereka (anak-anak) sudah bisa belajar banyak tentang ilmu pengetahuan. Kami juga membentuk kelas spiritual dan kelas beladiri untuk melatik fisik dan mental anak-anak agar mereka bisa menjaga diri dengan baik," ujarnya kepada portalmedia.id, belum lama ini.
Baca Juga : Kerap Buat Gaduh, Ormas B120 Bentukan Wali Kota Makassar Akan Dibubarkan ?
Bukan cuma itu, di Sikola Mangkasara juga mengajarkan anak-anak untuk memproduksi barang yang dapat menghasilkan pendapatan bagi mereka.
" Jadi, kami mengajarkan anak-anak untuk membuat sabun cuci dan dijual kepada costumer. Bagi yang membeli dianggap sebagai sedekah dan dananya akan dibagikan ke panti asuhan dan para pedagang kecil di pinggir jalan," lanjut mantan politisi PKS ini.
Selama lembaga ini berdiri, kata Rahmi, ia memang belum pernah dilirik oleh pemerintah. "Selain itu, kami juga tidak pernah mengajukan pendanaan atau meminta bantuan kepada pemerintah. Kami masih mampu mencari dana sendiri untuk mengembangkan potensi anak-anak," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News