Keberingasan Batalyon 120 Sudah Lama Dikeluhkan, Balap Liar hingga Nyaris Adu Jotos dengan Warga Setempat
Tidak adanya tenaga profesional yang membina para anggota Batalyon 120 sehingga kerap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat sekitar.
PORTAL MEDIA, ID. MAKASSAR- Batalyon 120 bentukan Pemkot Makassar yang diharap dapat mengayomi masyarakat, jauh dari harapan. Para anggota maupun pemuda binaannya bak preman dengan keberingasannya mengganggu warga setempat.
Seperti banyak dikeluhkan oleh warga sekitar Jalan Korban 40.000 Jiwa, Kelurahan Rappojawa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Para anggota maupun pemuda binaan Batalyon 120 itu kerap melakukan aksi yang membuat resah warga, salah satunya yakni dengan mengendarai motor dengan suara keras hingga menganggu jam istirahat warga sekitar.
Baca Juga : Lewat Forum Indonesia on the Move, Munafri Siapkan Sistem Transportasi Terpadu dan Rendah Emisi
"Itu yang biasa agak bar-bar sedikit. Datang balap motor bahkan RT sering melapor. Nyaris terjadi gesekan antara warga ternyata begitu saya dalami, kehadiannya seperti itu. Ada anak yang dibina. Nah sebenarnya inilah yang dirangkul supaya dia tidak turun ke jalan," jelas Ketua RW 04 Kelurahan Rappojawa, Rusdi saat ditemui awak media di kediamannya, pada Senin (12/9/2022) siang.
Rusdi mengungkapkan tidak mengetahui secara pasti proses pembinaan para pemuda di Batalyon 120 tersebut.
"Sejauh ini saya tidak tau secara dalam sisi pembinaan mereka. Laporan yang kami dapatkan adalah mereka melakukan pembinaan. Jadi memang saya harus respon apapun bentuknya oleh karenanya saya sering berkomunikasi dengan ketuanya jadi memang artinya harus dikontrol setiap saat," tuturnya.
Baca Juga : Menjelang Setahun Kepemimpinan MULIA, Makassar Raih UHC Award 2026
Rusdi menyebut tidak adanya tenaga profesional yang membina para anggota Batalyon 120 sehingga kerap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat sekitar.
"Tidak dilepas begitu saja pasti ada yang senior dan situlah yang sering dilakukan pembinaan sehingga tidak sering menggangu tetangga dan lain-lain. Dan pasti juga akan meresahkan. Saya sendiri juga sering tegur itu. Dan saya lihat memang belum ada tenaga profesional yang mengurus mentalnya. Pembinaan otodidak yang dilakukan," ungkapnya.
Rusdi juga menjelaskan selama bertempat di wilayahnya, ketua RT setempat kerap mengeluhkan aktivitas para anggota Batalyon 120 yang diduga kerap mengganggu masyarakat.
Baca Juga : Kunjungi Kantor Kemenlu, Wali Kota Munafri Perkuat Diplomasi Pariwisata dan Maritim Lewat Kolaborasi
"Nah dalam proses perjalanan waktu, RT saya ini sering mengeluh, tapi saya selalu membuka komunikasi dan memberikan himbauan agar tidak membuat masyarakat resah. Sudah berkali-kali memberikan peringatan agar tidak membuat warga resah. Tapi mereka memang belum mendapat binaan mental sehingga ini yang menjadi hal yang membuat warga resah," ucapnya.
Nyaris Adu Jotos dengan Warga
Seiring berjalannya waktu, keberadaan markas Batalyon 120 tersebut menjadi polemik di masyarakat. Rusdi menyebut warga sekitar sempat beberapa kali hendak melakukan penyerangan ke markas Batalyon 120 dan saling adu jotos.
Baca Juga : Pengamat Nilai Ketegasan Munafri Tertibkan Parkir Liar hingga PKL Sangat Tepat Menata Makassar
"Beberapa kali itu ( mau diserang warga) cuman saya masih mampu meredam itu tapi kan kedepannya kita tidak jamin. Iya warga di Jalan Korban, karena kan yang balapan-balapan itu, kadang-kadang trak trakan (balap liar) di depan," sebutnya.
Dari pantauan Portalmedia memang lokasi markas Batalyon 120 merupakan ruko dekat dari pemukiman padat penduduk di Jalan Korban 40.000 Jiwa.
Jalan depan markas Batalyon 120 juga nampak sering padat lantaran jalan sempit. Informasi yang dihimpun dari beberapa sumber di lokasi, pemuda yang ditinggal di kawasan itu juga tidak ada yang bergabung masuk ke organisasi tersebut.
Baca Juga : Munafri–Aliyah Kompak Hadiri Muscab Hanura Makassar, Tegaskan Komitmen Kolaborasi Lintas Partai
Mengganggu Istirahat Warga di Malam Hari
Hal senada juga diungkapkan Ketua RT 04, Abdul Aziz. Kata dia dirinya kadang dipandang enteng ketika menegur para oknum anggota maupun pemuda binaan Batalyon 120.
"Iya ada mengeluh, mereka itu biasa kalau jam 4 jam 3 rusuhki cerita seenaknya kayak tidak di sekelilingnya tetangga, akhirnya kan warga mengeluh ke kita, kita tidak respon karna kan kita saja sebagai RT sudah dianggap bagaimana mi toh, istilahnya apa tonji kau," ungkap Aziz dengan dialeg Bugis-Makassar.
Sekedar diketahui, pada Minggu (11/9/2022) aparat kepolisian dari Dit Samapta Polda Sulsel menggerebek markas besar Batalyon 120 yang terletak di Jalan 40.000 Jiwa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.
Di situ, polisi menemukan barang bukti dari sekretariat Batalyon 120 berupa 164 anak panah busur, 4 buah parang, 1 senjata rakitan jenis Paporo, 3 buah ketapel panah busur, dan 38 botol bekas minuman keras.
Selain itu polisi juga mengamankan sedikitnya 48 orang oknum anggota Batalyon 120 di lokasi tersebut. Dari puluhan orang yang diamankan rata-rata masih berstatus pelajar.
Tak sampai disitu, kasus penggerebekan itu pun membuat Kanit Reskrim Polsek Tallo, Iptu Faizal dinonaktifkan dari jabatannya. Pencopotan itu, lantaran diduga terkait dengan penggerebekan di markas Batalyon 120.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News