Kisah Haru Nur Aini, Siswi SMA yang Hidup Sendiri Merawat Nenek Sakit Usai Orang Tuanya Ditahan

Nur Aini Rasmania Putri

Kehidupan Nur Aini berubah drastis sejak orang-orang terdekatnya dibawa paksa oleh aparat.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR– Di sebuah rumah semi permanen di Jalan Teuku Umar 13, Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, seorang gadis remaja menjalani hari-harinya dalam sunyi.

Usianya baru 16 tahun, tapi beban yang ia pikul jauh lebih berat dari anak sebayanya. Namanya Nur Aini Rasmania Putri, seorang siswi SMA kelas X.

Sejak 27 Mei 2025, ia menjadi satu-satunya orang yang merawat sang nenek, Andi Supatma (75), yang hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur.

Hal itu dikarekan, empat anggota keluarganya termasuk kedua orang tua dan dua tante Aini ditahan akibat kasus sengketa warisan yang tak kunjung usai.

“Sudah dua bulan, saya sendiri yang jaga nenek. Kalau saya pergi sekolah, nenek di rumah sendiri. Saya biasa masak nasi, kalau capek kadang menangis,” kata Nur Aini.

Kehidupan Nur Aini berubah drastis sejak orang-orang terdekatnya dibawa paksa oleh aparat.

Rumah yang biasanya ramai kini hanya dipenuhi keheningan, sesekali dipecah oleh batuk sang nenek atau bunyi sendok dari dapur kecil yang kini menjadi tempat Nur Aini belajar bertahan.

“Dulu orang tua yang mandikan nenek. Sekarang tinggal saya. Kalau capek, saya peluk nenek, bilang sabar-sabar mi, saya masih di sini,” ucap Nur Aini.

Di usianya yang seharusnya dipenuhi semangat belajar dan canda tawa teman sebaya, Nur Aini justru harus menjadi tulang punggung di rumah.

Ia memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan merawat neneknya yang hanya bisa rebahan semua itu ia lakukan sebelum dan sepulang sekolah.

Makanan mereka pun sangat terbatas. Kadang hanya bubur, kue, atau mie instan yang bisa mereka makan. Itu pun jika ada tetangga atau kerabat yang datang menegoknya.

seperti Syamsiah (51), kerabat jauh, yang sempat datang membawa sedikit bantuan.

“Kalau saya sempat datang, saya bawakan bubur. Tapi kalau tidak sempat, kasihan, mie saja yang dimakan,” tutur Syamsiah.

Menurut Syamsiah, Muliana dan Yuliati dua dari empat orang yang ditahan selama ini adalah tulang punggung keluarga.

Sejak keduanya ditahan, tak ada lagi pemasukan. Ia pun berharap ada hati nurani dari pihak berwenang yang bisa melihat situasi keluarga ini.

“Tidak bisa buat apa-apa ini nenek. Kasihan sekali. Masa orang setua itu ditinggal dalam keadaan sakit tanpa siapa-siapa,” ucapnya haru.

Kasus yang menimpa keluarga Nur Aini bermula dari sengketa tanah warisan. Menurut kuasa hukum mereka, Sya’ban Sartono, kliennya hanya mempertahankan hak mereka sebagai ahli waris atas tanah keluarga yang diduga dijual sepihak oleh paman mereka.

“Karena mereka melihat ada pembangunan pondasi di tanah itu, mereka cegat dan akhirnya dituduh merusak. Padahal ini soal waris. Tapi prosesnya didorong jadi pidana,” ungkap Sya’ban.

Ia mengatakan laporan atas kasus ini dibuat sejak 2021, namun tiba-tiba di tahun 2025 kliennya dipanggil dan langsung ditahan. Bahkan salah satu terdakwa, Muliana, sempat pingsan saat hendak dibawa ke tahanan.

Pihaknya telah berkali-kali mengajukan permohonan penangguhan atau pengalihan penahanan, namun hingga kini belum mendapat tanggapan dari pengadilan.

“Kami tidak menuntut bebas. Kami hanya minta kemanusiaan. Di rumah itu ada seorang anak dan nenek yang nyaris tak bisa hidup tanpa mereka,” tegas Sya’ban.

Ia berharap aparat penegak hukum bisa membuka hati, melihat situasi di luar ruang sidang di ruang kecil sempit di mana seorang anak berjuang mempertahankan kehidupan neneknya yang sekarat.

Di malam hari, saat kebanyakan anak seusianya tertidur lelap di pelukan orang tua, Nur Aini duduk di samping ranjang neneknya. Ia menggenggam tangan yang keriput itu, sambil membisikkan doa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru