BGN Wajibkan Air Bersertifikat untuk Masak Program Makan Bergizi Gratis
BGN juga memastikan terus memantau laporan terkait kasus keracunan dalam program MBG.
PORTALMEDIA.ID – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan bahwa seluruh menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) wajib dimasak menggunakan air bersertifikat atau air galon yang telah teruji keamanannya.
Kebijakan ini diterapkan menyusul ditemukannya sejumlah kasus keracunan makanan dalam program MBG di beberapa daerah akibat sanitasi yang tidak layak.
“Karena wilayah Indonesia sangat luas, banyak kasus gangguan pencernaan justru berasal dari kualitas air. Oleh karena itu, air yang digunakan untuk memasak makanan bergizi harus air bersertifikat, air galon, atau air isi ulang yang sudah melalui proses sertifikasi,” ujar Dadan, dikutip Selasa (21/10/2025).
Baca Juga : Tak Penuhi Standar Sanitasi, 1.256 Dapur Makan Bergizi Gratis di Indonesia Timur Resmi Disetop
Selain pengawasan terhadap sumber air, Dadan menyebut sejumlah Satuan Produksi Pangan Gizi (SPPG) kini juga dilengkapi dengan peralatan sterilisasi food tray atau wadah makanan. Langkah ini dilakukan agar wadah dapat digunakan kembali secara aman setelah dicuci dan dikeringkan pada suhu tertentu.
BGN juga memastikan terus memantau laporan terkait kasus keracunan dalam program MBG. Sebagai langkah pencegahan, jumlah penerima manfaat di setiap SPPG kini dibatasi maksimal 2.500 orang.
“Kita tetapkan kebijakan bahwa satu SPPG melayani rata-rata 2.000 hingga 2.500 penerima manfaat, dan bisa sampai 3.000 jika ada ahli masak yang sudah bersertifikat,” jelas Dadan.
Baca Juga : Program Makan Bergizi Gratis Ikuti Jadwal Sekolah, BGN Fokus Efisiensi Anggaran
Untuk meningkatkan standar keamanan pangan, BGN juga mewajibkan setiap SPPG baru didampingi oleh juru masak profesional setidaknya selama lima hari pertama operasional. Di samping itu, distribusi alat rapid test juga ditingkatkan untuk memastikan kualitas bahan pangan yang diolah maupun makanan siap saji yang telah dikirim ke sekolah-sekolah.
“Rapid test digunakan untuk memeriksa bahan baku sebelum diolah, dan juga makanan setelah disajikan. Ini penting untuk memastikan tidak ada kontaminasi yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan,” tutur Dadan.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut terinspirasi dari pengalaman Jepang yang telah menjalankan program makan bergizi selama lebih dari satu abad.
Baca Juga : BGN Pastikan Tenaga Kependidikan Masuk Penerima Makan Bergizi Gratis
“Dari pengalaman Jepang selama 100 tahun menjalankan MBG, sekitar 90 persen gangguan pencernaan yang muncul ternyata disebabkan oleh kualitas bahan baku. Karena itu, kita harus memastikan pengawasan ketat dari hulu ke hilir,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News