Layani Lansia dan Perempuan, Alissa Wahid Minta Petugas Haji Ubah Cara Pandang

ist

Menurutnya, petugas haji sebagai representasi negara memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pelayanan terbaik.

PORTALMEDIA.ID - Direktur Jaringan Gusdurian Alissa Wahid mengingatkan besarnya tantangan yang dihadapi petugas haji, khususnya dalam melayani jemaah lanjut usia dan perempuan.

Ia menekankan pentingnya pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan kelompok rentan agar pelaksanaan ibadah haji berjalan lancar sekaligus menekan risiko kesehatan, penyakit, hingga kematian.

Hal tersebut disampaikan Alissa usai menjadi pemateri dalam sesi “Haji Ramah Lansia dan Perempuan” pada Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga : Menteri Haji Ungkap Peran Baru TNI-Polri dalam Layanan Jemaah

Alissa menilai peran petugas haji sangat krusial karena mereka menjadi tumpuan rasa aman dan nyaman bagi jemaah.

“Petugas haji adalah sumber rasa aman dan nyaman bagi jemaah, terutama lansia dan perempuan,” ujar putri sulung Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid itu.

Menurutnya, petugas haji sebagai representasi negara memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pelayanan terbaik. Ia menekankan bahwa kualitas pelayanan sangat ditentukan oleh kesiapan dan kesungguhan para petugas.

Baca Juga : Kemenhaj Perketat Pengawasan Pengadaan Barang dan Jasa Haji

“Semua ini bermula dari kesiapan dan niat para petugas haji,” katanya.

Alissa juga menyoroti bahwa penyelenggaraan haji yang ramah perempuan harus dimulai dari perubahan cara pandang. Ia menjelaskan bahwa sistem layanan haji di Arab Saudi pada dasarnya masih banyak menggunakan perspektif laki-laki.

“Kesadaran ini penting agar kebutuhan perempuan tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai realitas yang memang harus difasilitasi,” ujar Alissa.

Baca Juga : Kampung Haji di Mekkah Ditargetkan Mulai Beroperasi 2028

Ia menambahkan, pelayanan bagi jemaah perempuan harus tersedia secara memadai, mulai dari fasilitas sanitasi, perlengkapan pendukung, hingga keberadaan pembimbing ibadah perempuan.

Alissa kemudian berbagi pengalamannya saat terlibat dalam tim yang menangani kebutuhan jemaah haji perempuan pada 2022. Pada saat itu, jumlah jemaah perempuan tercatat lebih banyak dibandingkan jemaah laki-laki, sehingga dibutuhkan pendekatan pelayanan yang lebih sensitif gender.

Dari pengalaman tersebut, kata Alissa, lahir sejumlah rekomendasi, termasuk peningkatan proporsi pembimbing ibadah perempuan dari semula 18 persen menjadi 36 persen.

Baca Juga : Liga Muslim Dunia Dukung Indonesia Wujudkan Kampung Haji

“Kesadaran inilah yang kemudian melatarbelakangi kebijakan menghadirkan Amirul Hajj perempuan pada tahun berikutnya, karena kebutuhan jemaah perempuan hanya bisa dipahami secara utuh oleh perempuan itu sendiri,” ucap Alissa yang menjadi anggota Amirul Hajj pada musim haji 2023.

Pernyataan Alissa sejalan dengan kebijakan Kementerian Haji dan Umrah yang mendorong penyelenggaraan haji ramah perempuan. Salah satu kebijakan tersebut adalah meningkatkan jumlah petugas perempuan hingga lebih dari 30 persen, termasuk penambahan pembimbing ibadah haji perempuan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru