SBT Capai 55,74%, Penyaluran Kredit Baru Meningkat
Peningkatan kredit baru terindikasi bersumber dari kredit modal kerja (SBT 88,64%) dan kredit investasi (SBT 87,32 persen)
PORTALMEDIA.ID, JAKARTA -- Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia mengindikasikan penyaluran kredit baru pada triwulan IV 2025 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang sebesar 88,92%.
Direktur Eksekutif? Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso ?dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, menyampaikan bahwa nilai SBT tersebut lebih tinggi dari triwulan III 2025 dengan SBT 82,33%.
"Merujuk pada hasil survei, berdasarkan jenis penggunaan, peningkatan kredit baru terindikasi bersumber dari kredit modal kerja (SBT 88,64%) dan kredit investasi (SBT 87,32 persen). Sementara itu, kredit konsumsi (SBT 13,39%) terindikasi lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya," jelasnya.
Baca Juga : BI Catat Uang Beredar Tembus Rp10.133,1 T pada Desember 2025
Adapun perlambatan pertumbuhan kredit konsumsi, sambung Denny, disebabkan oleh penurunan kredit kendaraan bermotor (SBT -2,14%) serta perlambatan kredit multiguna (SBT 21,38 persen) dan kredit tanpa agunan (SBT 27,16%).
Sementara itu, pertumbuhan kartu kredit mengalami peningkatan dengan SBT 70,81%, sedangkan pertumbuhan KPR/KPA relatif stabil (SBT 48,00 persen).
Adapun pada triwulan I 2026, penyaluran kredit baru diprakirakan tetap tumbuh dengan nilai SBT sebesar 55,74%, meski termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya.
Baca Juga : Catatan BI: Transaksi QRIS Tap Tembus Rp28 Miliar di Akhir 2025
"Prioritas utama responden dalam penyaluran kredit baru pada triwulan I 2026 sama dengan periode sebelumnya, yaitu kredit modal kerja, diikuti oleh kredit investasi dan kredit konsumsi," sebutnya lagi.
Pada jenis kredit konsumsi, penyaluran KPR/KPA diprakirakan masih menjadi prioritas utama, diikuti oleh kredit multiguna dan kredit tanpa agunan.
Selanjutnya, standar penyaluran kredit pada triwulan IV 2025 terindikasi lebih longgar dibandingkan triwulan III 2025, tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang negatif sebesar -2,59.
Baca Juga : Fokus Jaga Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia Pertahankan BI Rate 4,75%
Kebijakan penyaluran kredit yang lebih longgar antara lain pada aspek biaya persetujuan kredit, jangka waktu kredit, dan suku bunga kredit. Sementara pada triwulan I 2026, standar penyaluran kredit diprakirakan lebih berhati-hati dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dengan ILS sebesar 2,75.
Responden memprakirakan outstanding kredit sampai dengan akhir tahun 2026 tumbuh lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya, yakni menjadi 9,79% (year on year/yoy) dari sebelumnya 9,69% (yoy).
"Kondisi tersebut antara lain ditopang oleh prospek kondisi ekonomi dan moneter yang tetap baik serta risiko dalam penyaluran kredit yang tetap terjaga," kunci Denny.(#)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News