Pulihkan Ekosistem Pascatambang, PT Vale Indonesia Dorong Keberlanjutan di Tanah Sorowako
Vale aktif melakukan transplantasi terumbu karang di kawasan Bulu Poloe dengan metode spider, serta melakukan restorasi mangrove seluas lebih dari 200 hektar untuk memperbaiki ekosistem laut dan daya tangkap karbon.
PORTALMEDIA – Komitmen terhadap praktik pertambangan yang berkelanjutan (sustainable mining) terus diperkuat oleh PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan. Melalui pendekatan ekosistem yang komprehensif, perusahaan tidak hanya fokus pada pemulihan lahan pascatambang, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Salah satu bukti nyata keberhasilan ini terlihat di Arboretum Himalaya, kawasan reklamasi khusus seluas 30 hektar yang telah dikembangkan sejak tahun 2006. Setelah hampir 19 tahun, area yang dulunya merupakan lokasi tambang nikel tersebut kini telah bertransformasi menjadi hutan sekunder yang rimbun dengan tingkat biodiversitas yang tinggi.
General Manager Strategic Ernergency & Support PT Vale, dalam keterangannya menyebutkan bahwa keberhasilan reklamasi diukur dari terjadinya suksesi alami. Di Arboretum Himalaya, ditemukan berbagai jenis flora dasar seperti anggrek dan pakis, hingga pohon kayu kelas satu yang eksotik.
Baca Juga : Produksi Saprolit Bahodopi Melejit 90 Persen, PT Vale Tatap Optimisme di 2026
"Kami telah menanam lebih dari 80.000 pohon Eboni (kayu hitam) yang merupakan tanaman endemik Sulawesi yang hampir punah. Munculnya tanaman rotan dan kembalinya fauna ke area ini menjadi indikator bahwa iklim mikro di sini telah pulih mendekati rona awal," ungkapnya dilansir dari Youtube Kompas.
Selain di daratan, upaya konservasi juga menyasar wilayah pesisir. PT Vale aktif melakukan transplantasi terumbu karang di kawasan Bulu Poloe dengan metode spider, serta melakukan restorasi mangrove seluas lebih dari 200 hektar untuk memperbaiki ekosistem laut dan daya tangkap karbon.
Inovasi Ekonomi Sirkular dan Pemberdayaan Perempuan
Baca Juga : Kinerja Solid 2025: Laba Bersih PT Vale Melonjak 32 Persen di Tengah Tantangan Pasar
Tak hanya soal lingkungan, PT Vale juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah operasionalnya:
1. Pemanfaatan Slag: Limbah hasil pemurnian nikel dimanfaatkan menjadi material konstruksi jalan tambang dan bahan bangunan (batako) sesuai standar SNI.
2. Pengolahan Sampah Domestik: Sampah dari perumahan karyawan dipilah dan diolah menjadi kompos serta budidaya maggot yang kemudian didonasikan kepada masyarakat untuk pakan ternak.
3. Eko Edu Wisata Nanas Pondata: Kolaborasi dengan Desa dalam mengolah lahan kritis menjadi perkebunan nanas organik. Program ini berhasil mengangkat taraf hidup kelompok perempuan melalui produksi olahan nanas seperti dodol dan sirup tanpa pengawet.
Prinsip Pertambangan Berkelanjutan
PT Vale memastikan seluruh proses operasional, termasuk pengelolaan air limbah di kolam pengendap (LGS), dimonitor 24 jam sebelum dialirkan ke Danau Matano guna memastikan kualitas air tetap di bawah baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
Baca Juga : Gempuran Tekanan Global Tak Surutkan Langkah, PT Vale Sukses Cetak Penjualan Fantastis di Awal 2026
"Kami percaya bahwa tidak ada masa depan tanpa pertambangan, dan tidak akan ada pertambangan tanpa kepedulian terhadap masa depan," tutup pernyataan dalam video tersebut.
Langkah ini diharapkan menjadi standar baru bagi industri ekstraktif di Indonesia dalam menyeimbangkan aspek pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan hidup bagi generasi mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News