IKAJO Sulsel Gelar Halal Bihalal, Perkuat Sinergi Lintas Generasi Alumni Yogyakarta

Dialog Kealumnian Lintas Generasi Alumni Jogjakarta Sulawesi Selatan, Sabtu (4/4) di Makassar.

Forum ini menjadi momentum penguatan solidaritas sekaligus refleksi peran alumni dalam pembangunan daerah.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR —
Ikatan Alumni Jogjakarta (IKAJO) Sulawesi Selatan menggelar acara Halal Bihalal dan dialog lintas generasi di Makassar, Sabtu (4/4).

Forum ini menjadi momentum penguatan solidaritas sekaligus refleksi peran alumni dalam pembangunan daerah.

Ketua Presidium IKAJO Sulsel, Mustakim, menjelaskan bahwa organisasi yang berdiri sejak 2001 silam ini lahir dari semangat kebersamaan mahasiswa perantau asal Sulsel di Yogyakarta.

Menurutnya, IKAJO bukan sekadar wadah silaturahmi, melainkan instrumen pemberdayaan potensi anggota.

Gagasan mengenai esesnsi alumni kemudian diperdalam melalui diskusi yang menghadirkan tiga pemantik yaitu, Am Iqbal Parewangi, sosok yang menggagas lahirnya IKAJO, Tadjuddin Rachman, pengacara senior, dan Mustakim.

Mantan Senator RI, Am Iqbal Parewangi membuka diskusi dengan kalimat yang menggelitik. "Alumni adalah cerita. Tidak ada alumni kalau tidak ada cerita, termasuk cerita cinta," katanya disambut tawa hadirin.

Menurut Iqbal, alumni pada hakikatnya adalah sebuah paguyuban. Karena itu, harus guyub. "Jika alumni punya anggota yang sedikit, itu artinya minim silaturahmi. Dalam alumni ada banyak cerita indah termasuk cerita cinta, dan sebagai alumni Jogja, pasti punya banyak kenangan," serunya.

Ia menegaskan bahwa apa pun namanya, tetap alumni Jogja. "Karena oasenya sama sebagai tempat membuat cerita yang berbeda. Organisasi alumni itu punya peran. Sebagai paguyuban, dengan dimensinya tidak ada permusuhan, yang ada persaingan internal yang sehat. Spirit Jogja harus lahir kembali," tegasnya

Tadjuddin Rahman, pengacara ternama yang merupakan alumni Hukum UII angkatan 1975, memberikan perspektif berbeda namun seirama. Baginya, alumni adalah sebuah ingatan untuk mereferensi masa lalu.

"Ada bahagia, cinta dan derita jadi satu. Organisasi alumni menjadi tempat bercerita itu semua, terutama Jogja. Karena Jogja jauh lebih memikat, dan selalu melahirkan kenangan," tuturnya dengan penuh penghayatan.

Ia menambahkan pesan penting. "Jika alumni bersatu, maka kita kuat. Dan yang pasti, organisasi itu harus memberi nilai tambah. Ada energi positif yang harus diberikan," tambah Tadjuddin.

Hadir pula sejumlah tokoh seperti politisi Andi Rio Pajalangi, Kajari Sidrap Adhy Kusumo Wibowo, S.H., M.H, Andi Cicang, serta Asniar Khumas, Ketua Kagama Sulsel, serta jajaran alumni dari berbagai profesi lainnya.

Kehadiran mereka mempertegas bahwa IKAJO bukan sekadar wadah seremonial, melainkan simpul yang menghubungkan berbagai generasi dan profesi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru