Pemerintah Siapkan CNG Tabung 3 Kg Pengganti LPG, Diklaim Lebih Hemat 40 Persen
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa penggunaan CNG sejatinya bukan hal baru. Bahan bakar gas alam ini sudah mulai diterapkan secara terbatas di sektor komersial seperti hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
JAKARTA, PORTALMEDIA.ID – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai menggodok rencana besar untuk menggantikan penggunaan LPG subsidi 3 kg (Gas Melon) dengan Compressed Natural Gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kg.
Langkah ini diambil sebagai strategi nasional untuk menekan angka impor LPG yang saat ini telah mencapai 80,58 persen dari kebutuhan dalam negeri.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa penggunaan CNG sejatinya bukan hal baru. Bahan bakar gas alam ini sudah mulai diterapkan secara terbatas di sektor komersial seperti hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kini pemerintah mulai mengarahkannya untuk kebutuhan rumah tangga," ujar Bahlil dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026).
Iming-iming Harga Murah
Keunggulan utama CNG dibanding LPG adalah efisiensi biaya. Pemerintah mengklaim ongkos penggunaan CNG jauh lebih murah, yakni sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan LPG konvensional. Hal ini diprediksi akan menarik minat masyarakat, terutama pelaku UMKM kuliner.
Namun, Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai rencana ini hanya bisa dikerjakan (feasible) secara terbatas di wilayah yang memiliki infrastruktur pipa atau dekat dengan sumber gas alam.
"Strategi ini layak secara terbatas, terutama di wilayah dekat sumber gas dan jaringan pipa. Fokus awal sebaiknya di sektor yang sudah siap seperti dapur besar dan kawasan perkotaan," kata Syafruddin.
Waspada Tekanan Tinggi
Meski lebih hemat, isu keselamatan menjadi ganjalan utama. Analis Energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), Putra Adhiguna, menyuarakan keraguannya terkait penggunaan CNG untuk skala rumah tangga masif.
Ia menjelaskan bahwa CNG memiliki tekanan yang sangat tinggi, yakni sekitar 200 hingga 250 bar. Hal ini jauh lebih berisiko dibandingkan LPG jika tidak ditangani dengan standar teknis yang sangat ketat.
"Tekanan tinggi membuat penanganannya kompleks. Di India, CNG lazim untuk kendaraan, tapi tidak lazim masuk ke dapur rumah tangga. Perlu pengujian ketat mulai dari kekuatan tabung, regulator, hingga kesiapan masyarakat," tegas Putra.
Target Tekan Impor LPG
Pemerintah menargetkan kehadiran CNG bisa mengurangi beban impor secara bertahap. Pada tahap awal, kontribusi CNG diperkirakan baru bisa menekan impor sebesar 2 hingga 5 persen. Namun, dalam jangka panjang (3-5 tahun), angka ini diharapkan naik menjadi 10-20 persen seiring dengan perluasan infrastruktur.
Syafruddin Karimi mengingatkan pemerintah agar tidak melakukan langkah gegabah dengan menarik LPG 3 kg sebelum CNG terbukti aman dan mudah didapat.
"Pemerintah tidak boleh menarik LPG 3 kg sebelum CNG tersedia, aman, murah, dan mudah diakses. Jangan sampai terjadi kelangkaan buatan yang memicu gejolak di masyarakat," pungkasnya.
Selain CNG, pemerintah juga disarankan terus mendorong opsi energi lain seperti jaringan gas (jargas) kota, kompor induksi untuk kelas menengah, dan biogas untuk wilayah pedesaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News