Gencatan Senjata Rapuh! AS Gempur Basis Drone Iran, Israel Targetkan Beirut

ist

Situasi Timur Tengah kian membara setelah AS gempur basis drone Iran di Selat Hormuz dan Israel perintahkan serangan udara baru ke Beirut, Lebanon.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR -- Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan saling meluncurkan serangan udara di sekitar Selat Hormuz sepanjang akhir pekan kemarin. Dilansir dari BBC News, situasi ini kian diperparah dengan keputusan sepihak Israel yang memerintahkan serangan baru ke ibu kota Lebanon, Beirut.  

Komando Pusat AS (US Central Command) mengonfirmasi bahwa jet tempur mereka telah melakukan serangan yang disebut sebagai aksi bela diri. Target operasi tersebut menyasar situs radar dan pusat kendali drone milik Iran yang berada di Pulau Kesh dan kota Guruk.  

Langkah militer ini diambil setelah pihak Iran menembak jatuh drone pengintai milik AS yang tengah beroperasi di wilayah udara internasional. Menanggapi aksi tersebut, Korps Garda Revolusi Iran mengeluarkan ancaman keras dan menegaskan akan memberikan balasan dengan skala yang jauh lebih besar jika agresi AS kembali terulang.  

Baca Juga : Sempat Nyaris Final, Trump Mendadak Rombak Draf Perjanjian Damai AS-Iran

Di jalur diplomasi, upaya untuk meredam konflik sebenarnya masih terus diupayakan. Namun, proses negosiasi mengalami jalan buntu setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan meminta sejumlah revisi besar dalam draf kesepakatan memorandum of understanding (MoU). Beberapa poin krusial yang diminta Trump meliputi pengetatan aturan pelayaran di Selat Hormuz serta poin pembersihan total uranium yang diperkaya (highly enriched uranium) oleh Iran.  

Menteri Luar Negeri Iran membenarkan adanya pertukaran pesan diplomasi yang masih berjalan, namun dirinya meminta semua pihak untuk tidak berspekulasi sebelum ada keputusan yang bersifat definitif.  

Serangan Baru Israel Guncang Beirut

Baca Juga : Kebuntuan Perang Trump-Iran dan Gaza Picu Lonjakan BBM, Begini Dampaknya Bagi Warga Makassar

Sementara itu di garis depan yang lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara resmi telah memerintahkan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk meluncurkan gelombang serangan udara baru ke wilayah Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut.  

Netanyahu berdalih, serangan ke wilayah yang dikenal sebagai basis kekuatan Hezbollah tersebut terpaksa dilakukan karena adanya pelanggaran gencatan senjata yang berulang kali dilakukan oleh kelompok militan tersebut.  

Langkah agresif Israel ini langsung memicu gelombang kritik tajam dari para pemimpin Eropa, termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris. Mereka menilai penetrasi militer Israel ke wilayah Lebanon justru akan menghancurkan prospek perdamaian regional yang tengah diupayakan secara kolektif. Dewan Keamanan PBB pun dijadwalkan segera menggelar pertemuan darurat untuk membahas krisis ini.  

Baca Juga : Dilaporkan Al Jazeera, Citra Satelit Terbaru Ungkap Penghapusan Massal Geografi Gaza Selatan oleh Israel

Krisis Kemanusiaan Memburuk di Lebanon

Dampak dari instruksi serangan udara ini langsung memicu kepanikan massal di kalangan warga sipil Lebanon. Gelombang pengungsian besar-besaran kembali terjadi setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi warga di wilayah Tyre dan sekitarnya.  

Ribuan warga dilaporkan bergerak menuju wilayah utara seperti Sidon dan Beirut untuk mencari perlindungan. Namun, kapasitas tempat pengungsian di Sidon dilaporkan telah melebihi batas, sehingga memaksa para pengungsi terus bergerak ke wilayah pegunungan dengan fasilitas seadanya tanpa kejelasan kapan mereka bisa kembali ke rumah masing-masing (red).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru