Ketegangan AS-Iran Memanas, Isu Nuklir dan Blokade Selat Hormuz Masih Jadi Ganjalan Damai

ist

Hubungan AS dan Iran kembali membara usai aksi saling serang jet tempur dan drone di tengah gencatan senjata. Harga minyak dunia langsung meroket 2 persen.

DUBAI, portalmedia.id – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mencapai titik didih. Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan terlibat aksi saling serang secara terbuka, yang dikhawatirkan bakal menjegal proses negosiasi damai yang tengah berjalan lambat. Dilansir dari Reuters, insiden ini menjadi eskalasi terbaru setelah kedua belah pihak sempat menyepakati gencatan senjata sementara sejak awal April lalu.

Baku tembak kali ini dipicu oleh rilis resmi Komando Pusat AS (CENTCOM). Melalui platform media sosial X, militer AS mengklaim jet tempur mereka telah membombardir sejumlah fasilitas militer di pesisir Teluk Iran pada akhir pekan kemarin.

Langkah ofensif tersebut diklaim sebagai aksi balasan setelah pihak Iran menembak jatuh pesawat nirawak (drone) jenis MQ-1 milik AS, yang menurut Washington sedang beroperasi di wilayah udara internasional.

Baca Juga : Terdesak Stok Minyak Habis, Trump Teken 14 Poin Kesepakatan Bersejarah dengan Iran

"Respons cepat dari jet tempur AS berhasil melumpuhkan stasiun kendali darat, sistem pertahanan udara Iran, serta dua drone kamikaze yang dinilai mengancam keselamatan jalur pelayaran internasional," tulis pernyataan resmi CENTCOM.

Balasan Kilat Korps Pengawal Revolusi Iran

Merembet ke hari Senin (1/6/2026), Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran langsung meluncurkan pukulan balasan. Teheran mengonfirmasi armada mereka telah membidik pangkalan udara yang kerap digunakan militer AS untuk menginvasi wilayah Iran bagian selatan.

Baca Juga : Trump Klaim Kesepakatan Damai Diteken Hari Ini, Iran Membantah dan Minta Semua Pihak Menahan Diri

Meskipun militer Iran enggan membeberkan lokasi pangkalan udara yang dimaksud, alarm bahaya sempat berbunyi di Kuwait. Sistem pertahanan udara di negara tetangga yang menampung pangkalan utama militer AS tersebut melaporkan telah menghalau serangan rudal dan drone di hari yang sama.

Aksi saling serang ini menambah panjang daftar korban sejak konflik besar meletus pada 28 Februari 2026. Perang yang melibatkan poros AS-Israel melawan faksi-faksi yang disokong Iran ini telah merenggut ribuan nyawa, khususnya di wilayah Iran dan Lebanon.

Gejolak Harga Minyak dan Dilema Politik Donald Trump

Baca Juga : Pertamax Naik Imbas Tensi AS-Iran, IHSG Justru Sukses Lolos dari Zona Merah pagi Ini

Imbas langsung dari memanasnya situasi ini langsung dirasakan pasar global. Harga minyak mentah di bursa Asia meroket hingga 2 persen pada perdagangan Senin, menyusul kekhawatiran atas aksi Iran yang masih memblokade Selat Hormuz—jalur pasokan energi paling vital di dunia.

Di tengah situasi genting tersebut, Presiden AS Donald Trump memilih meredam tensi lewat media sosialnya. Tanpa menyinggung insiden kontak senjata di Teluk Iran, Trump justru mengklaim bahwa Teheran sebenarnya sangat terdesak untuk mencapai kesepakatan damai.

Ia juga menyemprot para pengkritiknya di dalam negeri yang dinilai memperkeruh suasana negosiasi. "Duduk saja yang tenang, semuanya akan berakhir dengan baik," cetus Trump lewat unggahannya.

Baca Juga : Investigasi NYT Ungkap Rahasia Citra Satelit: Serangan Drone Iran Hantam 18 Pangkalan Militer AS

Manuver Trump ini dinilai pengamat sebagai bagian dari tekanan politik dalam negeri. Menjelang pemilu legislatif (midterm) pada November mendatang, Trump dituntut konstituennya untuk segera menjamin pembukaan Selat Hormuz agar harga bensin di AS bisa turun. Namun di sisi lain, ia juga dihantui protes dari kelompok garis keras di internal partainya sendiri jika dinilai terlalu lembek dan memberi banyak konsesi kepada Teheran.

Hingga saat ini, perundingan damai masih membentur dinding tebal. Beberapa poin yang belum menemui titik temu antara lain adalah desakan Iran terkait penghapusan sanksi ekonomi global, pencairan dana hasil penjualan minyak Iran senilai miliaran dolar di bank asing, serta konflik bersenjata Israel di Lebanon yang melibatkan milisi Hizbullah (red).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru