Rupiah Cetak Rekor Buruk Tembus Rp18.000 per Dolar AS, IHSG Ikut Ambruk ke Level Terendah 5 Tahun!
Nilai tukar Rupiah resmi melewati level psikologis Rp18.037 per Dolar AS pada Kamis (4/6/2026). IHSG turut merosot 4,11% ke level terendah sejak Juni 2021. Simak analisis data pasar finansial selengkapnya di sini.
MAKASSAR, portalmedia.id — Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan tajam pada pekan pertama Juni 2026. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah hingga melewati level psikologis Rp18.000, tepatnya berada di kisaran Rp18.037 per Dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026).
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya yang sempat mencatatkan penurunan sebesar 0,71% dalam satu hari. Berdasarkan data perdagangan kuotasi per menit, mata uang domestik dibuka di level Rp18.022 pada pagi hari dan terus mendapat tekanan seiring menguatnya indeks Dolar AS (DXY).
Kondisi ini turut memengaruhi pergerakan pasar modal domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot drastis sebesar 4,11% ke kisaran level 5.941. Penurunan ini menempatkan IHSG pada posisi terendah dalam lima tahun terakhir, atau sejak Juni 2021, yang dipicu oleh tingginya volume aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing.
Baca Juga : BI Catat Uang Beredar Tembus Rp10.133,1 T pada Desember 2025
Sentimen Fiskal Domestik dan Faktor Geopolitik Global
Data pergerakan pasar finansial menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar ini dipengaruhi oleh akumulasi sentimen dari dalam dan luar negeri. Dari sisi domestik, pergerakan modal keluar dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek defisit anggaran belanja negara tahun 2026 yang diproyeksikan mendekati ambang batas aman undang-undang sebesar 3% dari PDB, di tengah kondisi rasio pajak yang masih rendah.
Sementara dari eksternal, ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah berimbas pada kenaikan harga minyak mentah dunia. Situasi tersebut mendorong pelaku pasar global mengalihkan aset mereka ke instrumen yang dinilai lebih aman (safe-haven), seperti Dolar AS. Secara akumulatif tahun berjalan (year-to-date), laju depresiasi Rupiah menjadi salah satu yang terdalam di kawasan Asia.
Baca Juga : Catatan BI: Transaksi QRIS Tap Tembus Rp28 Miliar di Akhir 2025
Antisipasi Pelaku Usaha di Daerah
Pergerakan nilai tukar yang menembus Rp18.000 per Dolar AS ini mulai diantisipasi oleh para pelaku usaha di tingkat daerah, termasuk di Sulawesi Selatan. Sektor manufaktur, industri pakan ternak, serta sektor digital di Makassar yang memiliki ketergantungan pada komponen impor kini bersiap menghadapi potensi pembengkakan biaya produksi (cost of production).
Guna meredam volatilitas yang lebih tinggi, Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus mengoptimalkan strategi intervensi berlapis (triple intervention) di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga stabilitas moneter dan menekan potensi rambatan inflasi ke sektor riil (red).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News