Visa Ofisial Dicekal Amerika Serikat, Timnas Iran Terpaksa Mengungsi Latihan ke Meksiko
Hubungan internasional memanas. Dilansir dari Al Jazeera, belasan ofisial penting Timnas Iran ditolak masuk ke Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026 sehingga skuad terpaksa mengungsi ke Meksiko.
TEHERAN, portalmedia.id — Tensi tinggi geopolitik kembali merambah panggung olahraga dunia menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026. Pemerintah Iran melayangkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat setelah sekira 14 hingga 15 orang jajaran penting dalam delegasi resmi tim nasional sepak bola mereka ditolak untuk mendapatkan visa masuk.
Dilansir dari Al Jazeera, penolakan visa ini memicu protes diplomatik karena menyasar pilar penting manajemen tim, mulai dari jajaran staf eksekutif, manajerial, penasihat teknis, hingga jajaran direktur media Federasi Sepak Bola Iran (IFF). Sementara untuk skuad pemain, pihak berwenang Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa seluruh pemain timnas Iran telah diberikan visa secara lengkap untuk bertanding.
Absennya komponen ofisial penting dinilai Iran sebagai bentuk diskriminasi yang merusak keadilan bertanding. Beberapa nama petinggi federasi yang dilaporkan ikut dicekal di antaranya Sekretaris Jenderal IFF Hedayat Mombeini, Wakil Presiden Mehdi Mohammad Nabi, Direktur Executif Mehdi Kharati, serta Direktur Media Mohsen Motamedkia.
Baca Juga : Wali Kota Munafri Siapkan Road Map, Wujudkan Makassar Bebas Asap Rokok
Isu Keamanan dan Ketegangan Geopolitik
Ketatnya proses penyaringan ini tidak lepas dari kebijakan ketat yang diambil oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) bersama Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Pihak Washington menegaskan, meskipun mereka berkomitmen penuh untuk menyukseskan gelaran akbar Piala Dunia 2026, AS tidak akan melonggarkan aspek keamanan nasional mereka.
Langkah pencekalan terhadap belasan ofisial tersebut diambil karena adanya kekhawatiran dari intelijen AS mengenai individu-individu yang diduga memiliki afiliasi atau keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), sebuah organisasi militer Iran yang masuk dalam daftar pengawasan ketat AS akibat konflik regional yang memanas.
Baca Juga : Perkuat Fungsi Representasi Legislatif Daerah, Aliyah Mustika Ilham Usul Pembentukan BAM di DPRD
Situasi ini menjadi salah satu preseden paling rumit dalam sejarah modern penyelenggaraan Piala Dunia. Untuk pertama kalinya, negara tuan rumah harus mengelola kedatangan tim nasional dari negara yang secara hubungan diplomatik dan politik sedang terlibat konflik terbuka dan tidak memiliki hubungan kerja sama formal.
Terpaksa Mengungsi ke Meksiko
Akibat ketidakpastian visa dan memanasnya situasi politik, timnas Iran terpaksa merombak total agenda persiapan mereka. Skuad Iran membatalkan rencana pemusatan latihan (training camp) yang awalnya dijadwalkan berlangsung di Tucson, Arizona, Amerika Serikat.
Baca Juga : Peringati Hari Lingkungan Hidup 2026, Wali Kota Munafri Wajibkan OPD Makassar Pilah Sampah dari Sumber
Federasi Sepak Bola Iran akhirnya memutuskan memindahkan basis latihan tim ke Kota Tijuana, Meksiko, sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan San Diego, AS. Sebagai konsekuensi dari kendala visa ini, timnas Iran dilaporkan hanya akan menyeberang masuk ke teritori Amerika Serikat pada hari H pertandingan, lalu segera terbang kembali ke markas mereka di Meksiko begitu laga usai.
Atas dasar pembatasan ruang gerak ofisial ini, pihak IFF dikabarkan langsung melayangkan tuntutan resmi kepada FIFA. Perwakilan diplomasi Iran menuduh Amerika Serikat telah mempolitisasi momentum olahraga internasional dan melanggar piagam independensi serta regulasi FIFA yang mewajibkan negara tuan rumah memberikan akses setara bagi seluruh kontestan yang lolos kualifikasi.
Timnas Iran sendiri dijadwalkan akan melakoni laga pembuka mereka yang krusial melawan Selandia Baru di Los Angeles. (red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News