Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Mengenang Manuver SBY Naikkan BBM 140?mi Selamatkan APBN
Kilas balik kebijakan SBY menaikkan BBM hingga 140?mi selamatkan APBN. Menjadi perspektif penting di tengah keputusan Pertamina menaikkan harga Pertamax hari ini.
MAKASSAR, portalmedia.id — Kebijakan PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax (RON 92) menjadi Rp16.250 per liter memicu diskursus hangat di tengah masyarakat. Namun, jika ditarik ke dalam perspektif sejarah ekonomi Indonesia, langkah pengetatan dan penyesuaian harga energi di tengah krisis geopolitik global bukanlah hal baru.
Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan catatan penting dan kilas balik historis mengenai bagaimana sebuah pemerintahan harus mengambil keputusan pahit terkait subsidi energi ketika badai krisis global menghantam.
Dilansir dari unggahan di kanal YouTube resminya, SBY mengungkapkan bahwa pada masa kepemimpinannya, pemerintah pernah mengambil langkah berani dengan menaikkan harga BBM hingga akumulasi sebesar 140 persen. Kebijakan tersebut diakui sebagai salah satu keputusan paling berat dan menyakitkan yang harus dirasakan oleh masyarakat luas.
Baca Juga : Pertamax Naik Imbas Tensi AS-Iran, IHSG Justru Sukses Lolos dari Zona Merah pagi Ini
"Langkah itu (menaikkan BBM) memang sangat tidak mudah, pahit, dan menyakitkan bagi masyarakat," kenang SBY dalam pernyataannya.
Penyelamatan APBN dari Kebocoran Fiskal
Meski popularitas politik menjadi taruhannya, SBY menegaskan bahwa alasan utama di balik lonjakan harga BBM sebesar 140 persen di eranya murni demi menyelamatkan perekonomian nasional agar tidak kolaps.
Baca Juga : IHSG Terbang Tinggi 7,57%, Terbantu Wacana Buyback Emiten Tanpa RUPS dan Sentimen BI Rate
Menurutnya, jika pemerintah saat itu terus-menerus memaksakan pemberian subsidi energi yang terlalu besar melampaui ambang batas kemampuan fiskal negara—terutama di saat harga minyak mentah dunia melonjak—taruhannya adalah kebangkrutan APBN.
Perspektif masa lalu ini dinilai sangat relevan dengan situasi ekonomi makro Indonesia hari ini. Kenaikan harga Pertamax per 10 Juni 2026 dipicu langsung oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang menyentuh kisaran USD 89 per barel pasca-serangan militer Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz, Iran.
Anomali Respons Pasar Modal Hari Ini
Baca Juga : Hadiri 'Freedom 250' di Surabaya, Aliyah Tegaskan Makassar Terbuka bagi Kemitraan Internasional
Menariknya, terdapat perbedaan fundamental dalam respons pasar modal antara era masa lalu dan kondisi saat ini. Jika dahulu kenaikan harga energi kerap diikuti oleh kepanikan pasar modal secara berkepanjangan, volatilitas hari ini justru menunjukkan anomali yang positif.
Meskipun harga Pertamax melonjak tajam, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia justru berhasil lolos dari zona merah dan melesat naik lebih dari 1,55% ke level 5.836 pada perdagangan Rabu pagi. Hal ini terjadi karena pemerintah dan otoritas pasar modal bergerak cepat mengamankan psikologis investor lewat wacana kebijakan buyback saham BUMN tanpa RUPS.
Melalui kilas balik pernyataan SBY, publik diberikan sudut pandang objektif bahwa penyesuaian harga energi di tengah konflik Timur Tengah bukanlah bentuk kegagalan domestik, melainkan jangkar pengaman fiskal yang lumrah diambil oleh negara mana pun demi menjaga stabilitas makroekonomi jangka panjang (red).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News