Sinergi Muhammadiyah-Pemkot: Fokus Pendidikan, Sampah, dan Ekonomi Warga di Makassar

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (tengah pakaian putih), berfoto bersama dengan unsur pimpinan dan jajaran kader Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar dalam momentum Syawalan 1447 H di Gedung BBPMP Sulsel, Jalan A.P. Pettarani, Makassar. Pemkot Makassar dan Muhammadiyah sepakat mempererat kerja sama taktis di bidang pendidikan gratis, penanganan sampah berbasis maggot, serta penguatan ekonomi lorong.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin memperkuat sinergi dengan Muhammadiyah untuk mengatasi persoalan sampah, urban farming, hingga sektor pendidikan dasar.

MAKASSAR, portalmedia.id — Pemerintah Kota Makassar terus bergerak masif memperluas jejaring kemitraan dengan organisasi kemasyarakatan guna mengakselerasi pembangunan daerah. Paling anyar, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara terbuka memperkuat komitmen kolaborasi taktis antara Pemkot dan Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Makassar dalam mengarsiteki sejumlah sektor pelayanan publik yang vital.

Fokus penajaman program kerja sama tersebut diarahkan pada penanganan kluster strategis, mulai dari reformasi mutu pendidikan, tata kelola sampah perkotaan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui skema urban farming.

Gagasan tersebut dilempar oleh Munafri, yang karib disapa Appi, kala menghadiri sekaligus memberi sambutan hangat dalam agenda Syawalan 1447 H Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar. Acara silaturahmi tersebut berpusat di Gedung BBPMP Sulsel, Jalan A.P. Pettarani, Makassar, Minggu (12/4/2025).

Baca Juga : Pemkot Makassar, Forkopimda dan Kemenlu Matangkan Kesiapan IGS 2026 Sambut Kedatangan Delegasi 28 Negara

Dalam orasinya, Munafri menghaturkan apresiasi mendalam sekaligus piagam penghormatan setinggi-tingginya kepada segenap keluarga besar Muhammadiyah Kota Makassar. Keberadaan organisasi ini dinilai konsisten mengambil peran aktif sebagai pilar penyokong laju roda pembangunan makro di Kota Daeng.

"Pertemuan ini sejatinya menjadi penanda penting sekaligus penegasan bahwa pemerintah kota bersama organisasi sewaham dan sebesar Muhammadiyah harus terus berjalan beriringan. Kita wajib merawat sinergi, mempererat kerja sama, dan berkolaborasi konkret demi memajukan Kota Makassar yang kita cintai bersama," lugas Appi.

Arahkan Kuota Siswa ke Sekolah Muhammadiyah

Baca Juga : Kawal Kelancaran SPMB 2026, Disdik Makassar Turunkan Tim Teknis Tambahan di Sekolah Favorit

Di sektor pendidikan, Appi menilai jaringan sekolah milik Muhammadiyah telah teruji sebagai salah satu kiblat pencetak generasi berprestasi. Untuk itu, Pemkot Makassar mendesain skema kerja sama guna mengurai problem daya tampung siswa pada masa penerimaan murid baru.

Nantinya, anak-anak usia sekolah yang tidak terakomodasi di sekolah negeri akibat keterbatasan kuota, akan diarahkan untuk mengisi bangku kosong di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Guna meringankan beban masyarakat, formula pembiayaan atau biaya pendidikan para siswa tersebut bakal ditanggung langsung oleh anggaran Pemerintah Kota Makassar.

"Ini adalah langkah taktis defensif kita dalam menjaga sekaligus menjamin kualitas serta pemerataan akses pendidikan bagi seluruh anak-anak di Kota Makassar," urai orang nomor satu di Pemkot Makassar tersebut.

Baca Juga : Sambangi Dua Sekolah Pantau SPMB 2026, Appi: Kita Pastikan Seleksi Transparan, Objektif, dan Berkeadilan

Konversi Sampah Menjadi Peluang Ekonomi

Beralih ke urusan lingkungan hidup, Munafri membeberkan fakta bahwa volume produksi sampah domestik di Makassar kini telah menyentuh angka fantastis, yakni berkisar 1.000 ton per hari. Guna memutus rantai persoalan ini, Appi menantang kader Muhammadiyah untuk ambil bagian sebagai agen edukasi perubahan perilaku di tingkat akar rumput.

Menurutnya, sampah tidak boleh lagi dipandang sebagai residu buangan semata, melainkan harus dikonversi menjadi motor penggerak ekonomi sirkular baru, khususnya bagi kluster ibu rumah tangga. Ia mencontohkan aktivitas pemilahan sampah plastik bernilai ekonomis yang laku dijual di kisaran Rp6.000 hingga Rp8.000 per kilogram, termasuk konversi sampah organik menjadi pupuk kompos.

Baca Juga : Komunitas Hijau Dukung Penataan PKL di Makassar, Yusran: Ini Bukan Penggusuran, tapi Menata Kota

Sejauh ini, Pemkot Makassar sendiri telah mengadopsi metode mutakhir berupa sistem pengomposan skala rumah tangga serta budidaya maggot (larva lalat) sebagai agen pengurai alami sampah organik. Guna mematangkan program ini, Appi mengusulkan gerakan integrasi di mana kader Muhammadiyah diharapkan mampu membina minimal dua lorong percontohan.

"Polanya saling terintegrasi: dari sampah rumah tangga diolah menjadi maggot, maggot dikonversi menjadi pakan ternak berkualitas, sisa produksinya jadi pupuk kompos, dan komposnya kita suplai untuk mendukung ketahanan pangan warga lewat gerakan urban farming. Ini ekosistem mandiri yang punya multiplier effect besar," jabar Appi.

Menutup pidatonya, Appi mengabarkan bahwa tata kelola kebersihan Makassar akan mendapat suntikan modal raksasa lewat rencana investasi proyek Pembangkit Listrik Berbasis Sampah (PLTSa) dengan estimasi nilai mencapai Rp3 triliun. Investasi jumbo ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang berbasis teknologi ramah lingkungan.

Baca Juga : Setelah Bertahun-tahun Diisi Plt, Munafri Kukuhkan 47 Kepala Puskesmas Definitif se-Kota Makassar

"Kita masih memiliki tumpukan pekerjaan rumah yang menuntut penyelesaian cepat. Tidak ada satu pun pihak yang mampu menyelesaikan dinamika perkotaan ini sendirian, kuncinya murni terletak pada kekuatan kolaborasi dan kerja sama," kunci Appi. (red)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru