Perkuat Ekosistem Pendampingan, ABDSI dan ILO Rampungkan Roadmap Transformasi Kelembagaan
FGD ini merupakan kelanjutan dari Strategic Planning Workshop yang sebelumnya sukses dilaksanakan di Bali pada 31 Maret–1 April 2026 lalu. Pertemuan tersebut telah menghasilkan draf awal peta jalan transformasi layanan Business Development Services (BDS) sebagai kerangka strategis organisasi.
PORTALMEDIA.ID, JAKARTA – Asosiasi Business Development Services Indonesia (ABDSI) bersama International Labour Organization (ILO) resmi menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk memfinalisasi Roadmap Transformasi Kelembagaan ABDSI 2026–2030.
Kegiatan strategis yang berlangsung di Kantor ILO Jakarta, Senin (6/7/2026) ini digelar guna memperkuat ekosistem pendampingan dan mendongkrak daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia.
FGD ini merupakan kelanjutan dari Strategic Planning Workshop yang sebelumnya sukses dilaksanakan di Bali pada 31 Maret–1 April 2026 lalu. Pertemuan tersebut telah menghasilkan draf awal peta jalan transformasi layanan Business Development Services (BDS) sebagai kerangka strategis organisasi.
Agenda penting ini dihadiri langsung oleh jajaran pengurus harian Dewan Pimpinan Nasional (DPN) ABDSI periode 2026–2030, perwakilan kementerian, serta tim ahli dari ILO.
Di antaranya hadir Project Manager PROMISE II IMPACT ILO Djauhari Sitorus, Programme Manager ILO Tomas Sugiono, National Project Officer ILO Yanis Saputra, serta Tenaga Ahli Kementerian Koperasi dan UMKM, Dr. Bachtiar Maddatuang.
Ketua Umum DPN ABDSI, Bahrul Ulum Ilham, Ph.D., menegaskan bahwa finalisasi roadmap ini menjadi momentum krusial bagi organisasi untuk bertransformasi menjadi lembaga yang kuat, mandiri, inovatif, dan berdaya saing tinggi.
"Roadmap ini adalah komitmen kolektif untuk menjadikan ABDSI mitra kredibel bagi pemerintah, sektor swasta, dan jutaan UMKM di Indonesia," ujar Bahrul Ulum dalam sambutannya.
Senada dengan hal itu, Project Manager PROMISE II IMPACT ILO, Djauhari Sitorus, menilai penguatan ekosistem BDS dan asosiasi pendamping sangat esensial untuk menerjemahkan tujuan pembangunan menjadi hasil nyata bagi pelaku usaha di akar rumput.
"Di tengah tantangan digitalisasi dan pasar yang semakin kompleks, peran BDS menjadi semakin kritis. Workshop ini membangun visi bersama untuk memperkuat ABDSI dalam memberdayakan UMKM, menciptakan pekerjaan layak, dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan," tegas Djauhari.
Di sisi lain, Tenaga Ahli Kemenkop UMKM, Dr. Bachtiar Maddatuang, turut menyoroti pentingnya pendekatan regulasi yang pro-UMKM, peningkatan kapasitas SDM, serta penguatan tata kelola dalam program pemberdayaan. Menurutnya, tantangan utama UMKM saat ini masih berkutat pada keterbatasan akses pasar, pembiayaan, teknologi, hingga standardisasi.
Fokus pada Empat Agenda Utama
FGD yang berlangsung sehari penuh ini menitikberatkan pembahasannya pada empat pilar agenda utama, yaitu:
Validasi Analisis Situasi: Penajaman arah strategis lima pilar kelembagaan ABDSI.
Theory of Change: Penguatan indikator kinerja utama (KPI) di dalam roadmap.
Kemandirian Finansial: Strategi penguatan kemandirian dan pembiayaan internal organisasi.
Action Plan: Penyusunan peta aksi tahun 2026 dan mekanisme tindak lanjut.
Dalam forum ini, ILO bertindak sebagai BDS Facilitator yang memberikan masukan substantif terhadap draf akhir peta jalan tersebut.
Melalui finalisasi ini, Roadmap 2026–2030 diharapkan tidak sekadar menjadi dokumen perencanaan di atas kertas, melainkan panduan aplikatif yang mampu menggerakkan transformasi ekosistem pendampingan UMKM Indonesia menuju level global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News