UMKM Sulsel Makin Kreatif dan Mendunia, Kadiskop UKM: Sebut Mereka Pengusaha Bukan Pelaku !
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Selatan, H. Andi Eka Prasetia, S.Sos., M.M., menilai pelaku usaha mikro dan kecil di Sulawesi Selatan telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Berkat kreativitas, inovasi, serta keberhasilan sebagian pelaku usaha menembus pasar ekspor, mereka dinilai pantas disebut sebagai pengusaha, bukan lagi sekadar pelaku usaha.
MAKASSAR, PORTALMEDIA.ID — Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Selatan melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Sulsel bersama Badan Standardisasi Nasional (BSN) terus memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui penerapan standar mutu dan penguatan legalitas usaha.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui sosialisasi bertajuk “Kamis Manis: Program SNI Bina UMK bagi Pelaku Usaha Wilayah Sulawesi Selatan” yang digelar di Aula PLUT Sulsel, Makassar, Kamis (27/8/2026).
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Selatan, H. Andi Eka Prasetia, S.Sos., M.M., menilai pelaku usaha mikro dan kecil di Sulawesi Selatan telah menunjukkan perkembangan yang signifikan. Berkat kreativitas, inovasi, serta keberhasilan sebagian pelaku usaha menembus pasar ekspor, mereka dinilai pantas disebut sebagai pengusaha, bukan lagi sekadar pelaku usaha.
“Pengamatan saya di Sulawesi Selatan, mereka tidak hanya mengurusi rutinitas usahanya saja, melainkan selalu berkreasi dan menghadirkan inovasi untuk kemandirian pengembangan bisnis. Bahkan, sudah banyak yang berhasil melakukan ekspor. Jadi, selayaknya mereka ini memang disebut sebagai pengusaha,” tegas Andi Eka.
Menurutnya, perubahan cara pandang tersebut penting karena mencerminkan kapasitas UMKM yang semakin matang dalam membangun bisnis, menciptakan lapangan kerja, hingga menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Andi Eka juga menegaskan bahwa konsep UMKM naik kelas tidak dapat diukur hanya dari peningkatan omzet. Lebih dari itu, pelaku usaha harus mampu meningkatkan kualitas produk, memperkuat tata kelola bisnis, melengkapi legalitas, serta membangun kepercayaan konsumen. Potensi sumber daya alam Sulawesi Selatan yang melimpah, mulai dari sektor pangan, pertanian, perikanan, fesyen, hingga kriya, menurutnya menjadi modal besar untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
“UMKM naik kelas bukan hanya UMKM yang omzetnya naik. UMKM naik kelas adalah UMKM yang produknya semakin berkualitas, proses usahanya semakin tertata, legalitasnya semakin lengkap, pengelolaannya semakin profesional, pemasarannya semakin luas, dan yang paling penting semakin dipercaya oleh konsumen,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa standardisasi merupakan investasi jangka panjang agar UMKM mampu memenangkan persaingan di pasar yang semakin terbuka.
“Jangan sampai kesempatan datang lebih cepat daripada kesiapan kita, dan standardisasi adalah salah satu bentuk kesiapan tersebut. Kami di Pemprov Sulsel berkomitmen membangun ekosistem terpadu bersama BSN, perbankan, asosiasi, dan perguruan tinggi agar pembinaan usaha tidak berjalan parsial,” katanya.
Senada dengan itu, Direktur Penguatan Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian BSN, Nur Hidayati, S.Si., M.Si., mengatakan pengusaha mikro dan kecil memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional sekaligus penyedia lapangan kerja. Karena itu, BSN terus mendorong pelaku usaha memenuhi tahapan legalitas hingga sertifikasi sebagai bagian dari proses naik kelas.
“Kita menyebutnya bukan sekadar pelaku usaha, tetapi para pengusaha yang andilnya sangat besar bagi perekonomian Indonesia serta membantu pemerintah menyediakan lapangan kerja. BSN berkomitmen mendampingi pengusaha mikro dan kecil agar mampu naik kelas melalui standardisasi. Naik kelas ini ada tahapannya, mulai dari kelengkapan legalitas, izin edar seperti P-IRT maupun MD BPOM untuk pangan, hingga kepemilikan merek sebagai prasyarat sertifikasi SNI,” jelas Nur Hidayati.
Kegiatan yang turut dihadiri Plt. Kepala UPT PLUT Sulsel Luqi Ubaidi Azis Halim, S.STP., M.Tr.A.P.. Kegiatan dipandu Konsultan PLUT Sulsel Wiwik Amaluddin ini menghadirkan empat narasumber yang membahas strategi peningkatan daya saing UMKM melalui standardisasi, legalitas, dan penguatan kapasitas usaha.
Empat narasumber tersebut yakni: Lyonni Ayu Evelhin, S.Gz. menjelaskan tahapan Program SNI Bina UMK serta manfaat standardisasi dalam meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas akses pasar.
Ketua Asosiasi Industri UMKM Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. Bachtiar Baso, mengulas strategi mengubah legalitas usaha menjadi nilai tambah yang mampu meningkatkan omzet melalui akses ke ritel modern dan kemitraan bisnis.
Sementara itu, Muhammad Al Gazali, S.E., M.M. dari DPMPTSP Kota Makassar memaparkan kemudahan pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui sistem Online Single Submission (OSS) sebagai fondasi legalitas usaha.
Peserta juga mendapatkan inspirasi dari kisah sukses Sumarni Bundu, pemilik usaha olahan pangan Gula Aren Palma. Ia membagikan pengalamannya membangun usaha hingga mampu memperluas pasar dengan menjaga konsistensi mutu produk, melengkapi legalitas, serta memenuhi berbagai persyaratan standardisasi.
Melalui kolaborasi tersebut, PLUT Sulsel dan BSN berharap semakin banyak pengusaha mikro di Sulawesi Selatan mampu memenuhi standar nasional, memperluas akses pasar, hingga menembus pasar ekspor secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News