133 Siswa SMP Islam Athirah Makassar Tanam Mangrove di Takalar Lewat Field Trip Science

Siswa SMP Islam Athirah.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Field Trip Science untuk mengenalkan ekosistem pesisir secara langsung kepada para siswa.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR — Sebanyak 133 siswa SMP Islam Athirah Makassar belajar menjaga lingkungan melalui aksi penanaman mangrove di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo, Dusun Puntondo, Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Field Trip Science untuk mengenalkan ekosistem pesisir secara langsung kepada para siswa.

Kepala SMP Islam Athirah Makassar, Nilamartini, menjelaskan bahwa kegiatan di alam terbuka ini dirancang agar siswa tidak hanya mendapat wawasan akademik, tetapi juga membentuk karakter peduli lingkungan dan rasa syukur.

“Melalui kegiatan ini, kita berharap anak-anak tidak hanya bertambah wawasan akademik, tetapi juga bertumbuh dalam hal karakter. Mereka dapat memaknai keindahan dan kekayaan alam sebagai bukti kebesaran Allah Ta’ala, menumbuhkan rasa syukur, serta memiliki kepedulian dan tanggung jawab untuk menjaga lingkungan hidup di sekitar kita,” ungkap Nilamartini, Sabtu (19/9).

Dalam kegiatan ini, para siswa dibagi ke dalam delapan didampingi oleh pendamping dari SMP Islam Athirah dan pihak PPLH Puntondo.

Selain penanaman mangrove, siswa mengikuti berbagai aktivitas edukatif, di antaranya pos refleksi, pengenalan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), ekosistem mangrove, ekosistem padang lamun, serta pembuatan souvenir.

Salah seorang siswa, Mohammad Hatta, mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini mengajarkan kita untuk lebih peduli lingkungan dengan merawatnya. Kita juga belajar bekerja sama dengan teman dan tidak meninggalkan teman saat mengalami kesusahan. Kegiatannya seru, meskipun sangat panas,” tuturnya.

Kegiatan Field Trip Science ini merupakan integrasi dari Islamic Leadership Skills (ILS), khususnya pilar beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, gotong royong, dan berpikir kritis.

Implementasinya tidak hanya dilakukan melalui aktivitas lapangan, tetapi juga melalui presentasi kelompok setelah kegiatan untuk merefleksikan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru