Tragedi Runtuhnya Mall Terbesar: 502 Orang Tewas akibat Kelalaian Pengelola
Insiden berdarah ini menimpa mal yang kala itu merupakan salah satu pusat perbelanjaan termegah di Seoul. Gedung berlantai lima tersebut ambruk rata dengan tanah hanya dalam kurun waktu sekitar 20 detik, menimbun lebih dari 1.500 pengunjung serta karyawan di bawah reruntuhan beton.
SEOUL, PORTALMEDIA – Tragedi runtuhnya pusat perbelanjaan Sampoong Department Store pada 29 Juni 1995 tercatat sebagai salah satu bencana non-alam paling mematikan dalam sejarah modern Korea Selatan. Peristiwa nahas yang dipicu kelalaian struktural dan pembiaran manajemen tersebut menewaskan sedikitnya 502 orang dan melukai lebih dari 900 lainnya.
Insiden berdarah ini menimpa mal yang kala itu merupakan salah satu pusat perbelanjaan termegah di Seoul. Gedung berlantai lima tersebut ambruk rata dengan tanah hanya dalam kurun waktu sekitar 20 detik, menimbun lebih dari 1.500 pengunjung serta karyawan di bawah reruntuhan beton.
Berdasarkan data Encyclopaedia Britannica, proses evakuasi berhasil menyelamatkan 937 korban luka-luka. Namun, 502 orang dinyatakan meninggal dunia dan enam orang lainnya dilaporkan hilang tanpa pernah ditemukan jasadnya.
Tanda Kerusakan Diabaikan Berbulan-bulan
Laporan investigasi The Guardian menyebutkan bahwa indikasi bahaya pada struktur gedung telah terdeteksi setidaknya tiga bulan sebelum peristiwa ambruk terjadi. Pada April 1995, retakan memanjang mulai tampak secara kasat mata di area atap dan dinding lantai lima.
Kendati demikian, pihak pengelola tidak menghentikan operasional gedung ataupun menggelar audit kelayakan struktur. Manajemen justru hanya memindahkan gerai-gerai di lantai lima ke lantai di bawahnya, sementara kegiatan jual beli pada lantai lainnya tetap berjalan normal.
Kondisi gedung kian kritis pada hari kejadian, 29 Juni 1995. Retakan struktural dilaporkan kian meluas hingga mencapai lantai empat.
Alih-alih mengevakuasi ribuan orang yang memadati mal, pengelola hanya menutup lantai empat dan mematikan seluruh sistem pendingin udara (air conditioner/AC). Kebijakan tersebut diambil demi mencegah kerugian operasional pada jam sibuk perdagangan.
Menjelang sore hari, ketika stabilitas gedung semakin mengkhawatirkan, sejumlah petinggi manajemen dilaporkan telah meninggalkan lokasi terlebih dahulu. Sementara itu, ratusan staf tetap diinstruksikan bekerja melayani pengunjung di dalam gedung yang pengap.
Ambruk dalam Hitungan Detik
Sekitar pukul 17.50 waktu setempat, suara dentuman keras terdengar dari dalam bangunan sebelum struktur utama ambruk secara bertahap (pancake collapse).
"Dari seberang toko terdengar suara seperti kereta bawah tanah memasuki stasiun. Begitu suara itu terdengar, orang-orang mulai berlarian panik. Tiba-tiba sepotong beton menimpa kepala saya dan saya pingsan," ungkap Park Seung-Hyun, salah seorang penyintas, sebagaimana dikutip dari BBC.
Cacat Konstruksi sejak Awal Pembangunan
Hasil investigasi resmi menyimpulkan bahwa bencana ini berakar dari pelanggaran spesifikasi teknik sejak tahap konstruksi pada 1987. Lahan pembangunan mal tersebut diketahui merupakan bekas area pembuangan akhir sampah (landfill) dengan daya dukung tanah yang tidak stabil.
Pihak kontraktor awal sempat menolak rancangan pembangunan gedung komersial skala besar di atas lahan tersebut dan menyarankan pembangunan kompleks apartemen yang lebih kokoh.
Namun, pemilik Sampoong Group, Lee Joon, menolak rekomendasi teknis tersebut. Pihak manajemen kemudian memutus kontrak kerja sama sepihak dan menunjuk kontraktor internal yang bersedia mengikuti instruksi perombakan desain tanpa memperhitungkan beban struktural.
Atas kelalaian berat yang memicu hilangnya ratusan nyawa, pengadilan Korea Selatan menjatuhkan vonis 10 tahun penjara kepada Lee Joon. Sementara itu, putranya yang menjabat sebagai salah satu eksekutif, Lee Han-Sang, dijatuhi hukuman 7 tahun penjara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News