Hotel Rontok Gegara Rumah Kos, IHGMA Sulsel Minta Kos-kosan Dikenakan Pajak Progresif
Banyak tamu hotel yang akhirnya memilih untuk menginap di kamar kos karena lebih murah sementara fasilitas setara hotel.
PORTALMEDIA. ID, MAKASSAR- Ketua Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) Sulsel, M. Yusuf Sandy meminta Pemerintah Kota Makassar menarik pajak progresif kepada rumah kos-kosan yang kian menjamur di Makassar.
Menurutnya, kamar Kos-kosan yang dijual secara harian, mingguan, bulanan hingga tahunan dengan harga yang lebih murah dapat membuat industri perhotelan rontok. Sebab rumah kos tidak dikenakan pajak, sementara fasilitas sudah setara dengan hotel.
"Metode penjualan dan promosi yang dilakukan sudah hampir sama dengan yang dilakukan oleh hotel, harganya lebih murah sementara fasilitas sama, " katanya.
Baca Juga : Kota Makassar Raih Penghargaan Nasional Skrining Bayi Baru Lahir Terbaik 2025
Penyataan ini disampaikan M. Yusuf Sandy dalam FGD Pajak Jasa Tertentu (PBJT) Dalam Rangka Penyusunan Ranperda Pajak dan Retribusi Daerah Tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Badan Pendapatan Daerah (Bependa) Kota Makassar.
Menurutnya, rumah kos yang sudah menjamur dimana-mana harus segera ditertibkan dan dibuatkan syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi sebelum mendirikan usaha." Harus dikenakan wajib pungut pajak seperti halnya yang diberlakukan untuk usaha hotel, "tambahnya.
Ditambahkan M. Yusuf Sandy, saat ini banyak tamu hotel yang akhirnya memilih untuk menginap di kamar kos dengan pertimbangan harganya jauh lebih murah dengan kondisi dan fasilitas kamar yang sudah hampir sama dengan hotel.
Baca Juga : Kota Makassar Lolos 4 Besar Seleksi Nasional Jejaring Kota Kreatif UNESCO 2025
Selain menyoroti usaha kos-kosan, M. Yusuf Sandy juga meninta kepada pemerintah Kota Makassar agar dapat meninjau kembali pajak hiburan dan spa yang akan dikenakan pungutan pajak 40% hingga 75%.
Mengingat hal ini dinilai sangat memberatkan pengusaha dengan melihat kondisi usaha yang hingga saat ini belum stabil sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi yang masih cenderung melambat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News