Korban Banjir di Makassar Keluhkan Tak Dapat Bantuan, BPBD : Jiwanya Belum Terancam

Penulis : Firda
Kondisi banjir di Perumnas Antang. Warga mengeluhkan distribusi logistik dari pemerintah yang minim/IST

Tidak ada bantuan logistik yang didistribusikan pihak pemerintah, padahal akses untuk keluar dari pemukiman itu tertutup karena banjir.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), mengakibatkan beberapa rumah warga terendam. Minimnya bantuan dari pemerintah kota (Pemkot) Makassar pun dikeluhkan dari para warga terdampak.

Daeng Simba (42) merupakan warga Perumnas Antang Blok 10 Kelurahan Manggala yang memilih untuk bertahan di rumahnya mengaku, selama berhari-hari rumahnya terendam air, ia dan keluarga belum juga tersentuh bantuan.

Tidak ada bantuan logistik yang didistribusikan pihak pemerintah, padahal akses untuk keluar dari pemukiman itu tertutup karena banjir.

Baca Juga : Hentikan Open Dumping, Pemkot Makassar Wajibkan Warga Pilah Sampah Organik dan Anorganik dari Rumah

"Kami bisa keluar dari blok 10, hanya saja seluruh akses itu juga banjir, jalur alternatif lain seperti Nipa-Nipa juga banjir, alternatif jalan Bukit Baruga II juga banjir, lebih lebih kalau mau lewat BTP juga banjir. Jadi betul betul aktifitas kami lumpuh," keluhnya.

Selain itu, masalah keamanan jika rumah ditinggal dan memilih mengungsi jadi pertimbangan. "Yang jadi pertimbangan keadaan keamanan rumah bila ditinggal dalam kondisi banjir apakah air akan makin tinggi atau keamanan lainnya," katanya.

Hal senada dikeluhkan Ketua RT 05 RW 11, Syamsuddin. Ia mengaku pemerintah hanya memberi bantuan logistik kepada warga yang mengungsi."Harapan saya selaku Pj Ketua RT agar semua warga mendapatkan bantuan logistik makanan dan lain lain," katanya.

Baca Juga : Auditor KONI Makassar Tegaskan Dana Hibah Cabor Sudah Sesuai Regulasi, Tuduhan LSM Tak Berdasar

Menanggapi itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Achmad Hendra Hakamuddin mengaku keluhan dari korban banjir semacam itu wajar terjadi. Meski menurutnya pihaknya telah melakukan berbagai upaya dalam penanganan korban banjir di Makassar.

"Keluhan-keluhan itu wajar terjadi bukan cuma di Kota Makassar, akan kita temui kondisi seperti itu ada yang merasa tidak terlayani," katanya.

Baca Juga : Aliyah Mustika Ilham Dukung Penetapan LP2B, Wujudkan Tata Ruang Berkelanjutan di Makassar

Hendra sapaan karibnya menjelaskan, masyarakat harus memahami perbedaan warga terdampak dan yang mengungsi.

"Kalau terdampak itu artinya, di depan rumahnya atau bahkan air masuk dalam rumah tapi belum menganggu secara ekonomi, tapi tidak sampai mengancam jiwa, itu terdampak," jelasnya.

Sementara yang mengungsi adalah mereka yang jiwanya sudah masuk kategori terancam, sehingga prioritas bantuan tentu harus diberikan kepada mereka yang mengungsi.

Baca Juga : Pembangunan Stadion Untia Berproses, Pemkot Makassar Target Tetapkan Pemenang Tender September 2026

"Kalau pengungsi itu dia mengungsi ke tempat titik ungsian yang ditetapkan oleh pemerintah atau kecamatan karena merasa jiwanya terancam artinya dia tidak bisa apa apa, tidak bisa bekerja," tambahnya.

Oleh karena itu, kata Hendra yang di titik pengungsian ialah orang yang terancam jiwanya sehingga menjadi prioritas untuk mendapatkan bantuan.

"Dimana BPBD secara kedaruratan memberikan bantuan, nah yang tidak mengungsi dianggap dalam tanda petik belum terancam jiwanya karena belum ke titik ungsi," ungkapnya.

Baca Juga : Penataan PKL Berbasis Solusi, Wali Kota Appi Siapkan Relokasi, KUR, hingga Pembinaan UMKM

Lanjut Hendra menjelaskan, kondisi di lapangan dimana banyak warga yang masih bertahan di tempatnya oleh sebab lebih pada keamanan barang barang, dan macam macam alasan.

"Saya harap media juga ikut mensosialisasikan jika memang warga merasa tidak bisa beraktivitas apalagi tidak bisa menyiapkan bahan makanan ayo ketitik ungsi," ajak Hendra.

Hendra menjelaskan pengungsi saat ini berjumlah 1.400 orang dan yang terdampak berjumlah 3.000 lebih dari beberapa titik banjir yang ada di Makassar.

"Justru kami menyiapkan layanan di titik ungsi itu untuk kenyamanan para warga yang mengungsi. Kita kasih dia selimut, kita kasih dia makanan, dan apa yang menjadi kebutuhannya," terangnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru