WVI Bangun Percepatan Target Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca untuk Masyarakat Tahan Iklim
Kegiatan ini bertujuan mempublikasikan praktik baik Program Kampung Iklim (PROKLIM) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK) melalui program Cocoa Life. Program ini telah dikembangkan oleh WVI di 18 desa di provinsi Sulawesi Selatan antara lain Kab. Pinrang, Kab. Enrekang, dan Kab. Luwu) dan 4 desa di Provinsi Sulawesi Tenggara yakni Kab. Kolaka dan Kab. Kolaka Timur.
PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR- Wahana Visi Indonesia (WVI) menggelar webinar dengan judul “Mencapai Masyarakat yang Berketahanan Iklim Melalui Percepatan Pencapaian Target Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca”.
Kegiatan ini bertujuan mempublikasikan praktik baik Program Kampung Iklim (PROKLIM) dari
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI (KLHK) melalui program Cocoa Life.
Baca Juga : Cuaca Panas Bikin Sejumlah Buah di Korea Terancam Hilang
Program ini telah dikembangkan oleh WVI di 18 desa di provinsi Sulawesi Selatan antara lain Kab. Pinrang, Kab. Enrekang, dan Kab. Luwu) dan 4 desa di Provinsi Sulawesi Tenggara yakni Kab. Kolaka dan Kab. Kolaka Timur.
Menurut Kevin Yosua, National Program Manager Cocoa Life WVI, praktik baik ini memberikan edukasi kepada warga terkait isu perubahan iklim dan masalah lingkungan. Selain itu, juga mendorong masyarakat melakukan pemetaan desa dan pengusulan program.
"Nah, program-program ini berkontribusi untuk lingkungan mereka yang dapat didanai oleh dana desa serta akan membangun kemitraan yang dapat mendukung implementasi PROKLIM," jelasnya, Rabu (26/12).
Baca Juga : 50 BUMDes Acungi Jempol Proyek Envision, Sukses Berdayakan 12.440 Perempuan dan Pemuda di NTT
Selanjutnya, Kevin menjelaskan jika kemitraan dengan Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Sulawesi Selatan telah dilakukan dan ada sekitar 96.000 bibit tanaman (durian, alpokat, dan kayu biti) yang didistribusikan kepada petani.
Asesmen ini katanya, mengenai kerentanan masyarakat dan kapasitas masyarakat dilakukan untuk menilai apakah Cocoa Life dapat berkontribusi untuk PROKLIM.
“Maka dari itu, tantangannya adalah pemahaman dari masyarakat yang kami dampingi terhadap istilah teknis seperti Gas Rumah Kaca (GRK). Petani melihat konteks perubahan iklim melalui pengalaman, seperti adanya hama dan penyakit tanaman yang diakibatkan perubahan cuaca ekstrim," bebernya.
Baca Juga : Jokowi Sentil AS yang Tidak Berkontribusi Atasi Perubahan Iklim Dunia
Untuk itu, langkah yang diambil kemudian adalah edukasi warga dan peningkatan kapasitas 40 orang kader di wilayah dampingan. WVI juga mendorong pemerintah daerah terkait pengembangan kemitraan untuk penutupan lahan, khususnya lahan kritis.
Selanjutnya , Cocoa Operation Lead Indonesia, Mondelez International, Zulqarnain pelibatan masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan dengan membuat usulan-usulan melalui Musrenbang. Hingga 2022 ini sudah ada 83 aktifitas atau usulan pembangunan yang akhirnya dibiayai oleh Dana Desa sejumlah 5,5 miliar rupiah.
“Program Cocoa Life tidak saja melatih petani tentang Good Agriculture Practices tetapi juga melatih Good Environment Practices, yaitu bagaimana meningkatkan kepedulian masyarakat sehingga mereka ingin berkontribusi untuk melakukan hal positif juga bagi lingkungannya melalui PROKLIM. Program Cocoa Life juga mendukung masyarakat dengan mendistribusikan 176.000 pohon naungan yang bisa ditanam di kebun kakao, di daerah bantaran sungai, atau daerah yang tidak ada “canopy” diatas-nya.”, ujarnya.
Program Cocoa Life adalah program berskala global yang diinisiasi oleh Mondelez International untuk memastikan keberlangsungan budidaya kakao dengan pendekatan holistik dalam menyelesaikan akar masalah dan memastikan perubahan yang sistemik dan berkelanjutan.
Melalui visi membuat coklat dengan benar, maka salah satu agendanya adalah memastikan kakao yang dihasilkan petani tidak merusak lingkungan dan tanah untuk keberlanjutan kakao di masa depan. Program ini diluncurkan tahun 2012 sampai tahun 2022 dengan menginventasikan US$400.000.000 untuk memberdayakan 200.000 petani kakao dan menjangkau 1.000.000 anggota masyarakat di 6 negara (Indonesia, India, Brazil, Dominika Republik, Ghana, dan Pantai Gading). Di Indonesia, Mondelez International bekerja sama dengan WVI dan Barry Callebout.
“Saat ini KLHK sedang mengembangkan Program Kampung Iklim, melalui PROKLIM ini upaya pengelolaan dan pengendalian iklim khususnya untuk meningkatkan ketahanan terhadap resiko-resiko negatif perubahan iklim serta menurunkan emisi GRK dapat dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat atau komunitas lokal," jelasnya.
Saat ini, Indonesia menunjukkan komitmen dan kontribusi pengendalian prerubahan iklim dengan meningkatkan komitmen terhadap upaya penurunan emisi GRK melalui dokumen Enhance Nationality Determine Contribution. Target penurunan GRK dari 29% meningkat menjadi 31,89% (skenario tanpa syarat atau dari upaya sendiri), atau dari 41% meningkat menjadi 43,2% (apabila mendapat bantuan Internasional).
"Oleh karena itu kami memberikan apresiasi kepada Mondelez International sebagai sektor usaha dan Wahana Visi
Indonesia yang telah berkontribusi kepada PROKLIM ini," demikian kata Direktur Jendral Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK, Laksmi Dewanthi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News