Sekolah Swasta di Makassar Dikeluhkan Praktik Jual Beli Suka-suka, Orang Tua: Kami Seperti Ditodong

Penulis : Firda
Ilustrasi

Salah satu sekolah swasta di Makassar dikeluhkan oleh orang tua murid sebab melakukan praktik jual beli kalender dan sticker yang terkesan wajib dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Praktik jual beli di sekolah kian lumrah terjadi, seperti salah satu Sekolah Dasar (SD) Swasta di Kota Makassar yaitu SD Pertiwi yang membuat orang tua murid merasa dipaksa untuk membeli barang tersebut.

Salah satu orang tua murid, menceritakan jika anaknya diberikan stiker dan kalender saat di sekolah tanpa sepengetahuan orang tua.

"Anak saya langsung dikasih kalender sama stiker terus Wali Kelasnya meminta pembayaran lewat Grub Orang tua seharga Rp 75 ribu" ujar salah satu orang tua, Wati (nama samaran), kepada Portalmedia.id, belum lama ini. 

Baca Juga : Respons Isu Praktik Jual Beli 'Suka-suka' di Sekolah, Pengamat Ingatkan Permendikbud

Ia menjelaskan hal itu menjadi keluhan, sebab menjadi suatu keharusan yang tidak berdasar. 

"Tidak ada penjelasan apa tujuan kalender itu dijual, anak dikasih kalender, orang tua disuruh bayar," katanya. 

Lebih lanjut ia menyebutkan di sekolah, masalah keuangan dan strata ekonomi orang tua itu berbeda-beda. 

Baca Juga : Praktik Jual Beli Kalender Dikeluhkan Orang Tua, Begini Penjelasan Kepsek SD Pertiwi Makassar

"Harusnya walaupun dia swasta, ia tidak semena- mena memberikan kalender kepada anak dan diwajibkn membayar," ungkapnya.

"Seharusnya ada pemberitahuan dulu, ini ada kalender, mau tidak dibeli, kalau mau dibeli baru anaknya dikasih," sambungnya.

Jika ini perintah, katanya dia baiknya jika ada surat tertulis dari kepala sekolah kepada orang tua siswa.

"Kalau memang mau dijual setidaknya ada pemberitahuan yang disampaikan kepada wali kelas kepada orang tua, cuman kalau modelnya langsung dikasih tanpa tanya mau atau tidak, itu namanya pemaksaan," tegasnya.

Wati juga khawatir hal tersebut akan berpengaruh terhadap penilaian guru terhadap sang anak jika tidak membeli sticker dan kalender itu.

"Ini dapat berpengaruh ke nilai, karena penilaian di sekolah itukan berdasarkan kebijakan guru, jadi kalau kita tidak baik dengan guru bisa jelek nilai, karena kita tahu bagaimana metode pendidikan di Indonesia," singgungnya.

Ia mengatakan jika proses pemberian kalender dan sticker itu sangatlah tidak etis dan Kepala Sekolah harus sadar jika orang tua berasal dari kalangan yang berbeda-beda.

Senada dengan itu, orang tua murid lainnya yang juga tidak ingin nama sebenarnya dituliskan menyayangkan kegiatan penjualan kalender dan sticker tersebut.

"Saya kaget ketika anak saya pulang membawa kalender yang dibagikan sama bu gurunya dan anak saya tidak tahu harganya," jelasnya saat ditemui Portalmedia.id beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan malamnya terkejut karena pesan di grub orang tua yang masuk memberitahukan bahwa kalender dan stiker sudah dibagikan dengan harga Rp 75 ribu.

"Saya kaget, kog kalendernya dibagikan dulu baru dimintaki uang, itukan namanya nodong," katanya.

Karena merasa janggal, ia bertanya kepada Wali Kelas apakah wajib atau tidak, namun guru tersebut malah melemparnya ke komite sekolah.

"Harusnya pada saat dibagi itu ada surat, bukannya barangnya sudah ada di anak-anak, terus langsung minta mana uangnya," pungkasnya.

"Itukan kaya ditodong, kayanya saya orang paling goblok di dunia ditodong begitu," sambungnya.

Ia mengatakan alangkah baiknya jika pihak sekolah mengkonfirmasi kepada orang tua terlebih dahulu sebelum memberikan kalender dan sticker tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru