RS Otak, Jantung dan Kanker Bakal Dibangun di CPI
Peletakan batu pertama telah dilakukan oleh Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin di CPI, Selasa (31/1/2023).
PORTALMEDIA.ID, MAKASSARR – Rumah Sakit (RS) spesialis yang akan digunakan untuk penyakit Otak, Jantung dan Kanker (OJK) bernama RS UPT Vertikal Makassar akan segera hadir di kawasan Center Point of Indonesia (CPI).
Peletakan batu pertama telah dilakukan oleh Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin di CPI, Selasa (31/1/2023).
Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Sunarto menjelaskan luas lahan yang digunakan sekitar 6,2 hektare. Sementara luas bangunannya mencapai 142 meter persegi dengan dilengkapi 3 tower serta akan diselesaikan dalam masa waktu 2 tahun.
Baca Juga : Virus HMPV Melonjak di China, Kemenkes Imbau Warga Waspada
"Nanti ada 3 tower, tower pertama untuk kanker, otak dan jantung. Sebenarnya pak Menteri juga untuk penelitian dan riset di sini, dan ini menjadi wilayah yang strategis," ujarnya kepada awak media di lokasi peletakan baru pertama.
RS ini kata Sunarto akan dibangun 12 lantai, tetapi kontruksi bangunan RS tersebut bisa dimungkinkan hingga 15 lantai dengan memakan anggaran sekitar Rp1,4 triliun.
"Kita rencanakan akan mengambil waktu sekitar 690 hari kalender, tetapi pak Menteri bisikkan ke saya coba dipercepat. Ada masa pemeliharaan 180 hari kalender dan sudah ada kontraknya," jelas Sunarto.
Baca Juga : Kemenag dan Kemenkes Susun Rencana Kebutuhan Obat dan Vaksin Haji 2025
"Interior juga kita fokuskan yah, supaya rumah sakit vertikal itu juga memikirkan mengenai desain, keindahan, kenyamanan dari pengunjung," pungkasnya.
Untuk fasilitas pelayanan di RS ini pun kata dia, disediakan 226 tempat tidur untuk pelayanan penyakit otak, dan begitu juga dengan kanker dan jantung, total 700 lebih tempat tidur.
Lebih lanjut, untuk ruang operasi sekitar 16 ruangan, 7 Laboratorium Jantung, serta 95 tempat tidur untuk ruangan ICU.
Baca Juga : Cakupan PIN Polio di Maros Lampaui Target Kemenkes
Bukan cuma itu, RS yang direncanakan akan menjadi tempat rujukan di Indonesia Timur ini juga akan difasilitasi dengan 48-50 tempat tidur sebagai rumah singgah.
"Nanti akan dikembangkan di sini, brand check up hemoterapy dan lainnya, intinya adalah penggunaan teknologi canggih," urai Sunarto.
Terakhir, Kemenkes kata Sunarto tentunya membutuhkan support dari berbagai stakeholder demi lancarnya pembangunan RS ini.
Baca Juga : Kemenkes Ungkap 5 Daerah di Indonesia Dengan Kasus DBD Tertinggi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News