Badai PHK Berlanjut, Giliran PayPal Pangkas 2.000 Karyawan

ilustrasi

Gelombang PHK kini dilanjutkan oleh perusaan PayPal dengan memberhentikan karyawannya sekitar 2.000 orang.

PORTALMEDIA.ID, JAKARTA - Badai PHK belum menunjukkan tanda surut, perusahaan-perusahaan dunia terus menunjukkan pemangkasan karyawan.

Kini giliran perusahaan jasa keuangan PayPal yang memberhentikan 2.000 karyawannya atau 7% dari total karyawannya.

Presiden dan CEO Dan Schulman mengatakan, saat ini PayPal tengah berjuang bertahan di tengah ekonomi makro yang menantang.

Baca Juga : Panasonic Umumkan PHK Massal 10 Ribu Karyawan Demi Efisiensi Global

Dia mengatakan perusahaan telah membuat kemajuan dengan memfokuskan sumber daya pada prioritas inti dan menyesuaikan struktur biayanya, tetapi masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

“Kami akan menghadapi ini bersama-sama, memanfaatkan skala platform global kami yang tak tertandingi, investasi strategis yang telah kami lakukan untuk memperkuat kemampuan inti kami, serta kepercayaan dan loyalitas pelanggan kami," ujar Schulman seperti dikutip dari CNBC, Jakarta, Rabu (1/2/2023) kemarin.

Badai PHK perusahaan menandai putaran terakhir pemutusan hubungan kerja di industri teknologi, karena Workday juga mengumumkan rencana untuk memangkas 525 karyawan pada waktu yang sama.

Baca Juga : Lonjakan PHK, 35 Ribu Klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan ke BPJS Ketenagakerjaan

Awal bulan ini, Google juga mengumumkan rencana untuk memberhentikan lebih dari 12.000 pekerja, Microsoft mengumumkan rencana untuk memangkas 10.000 karyawan dan Salesforce mengumumkan rencana untuk memberhentikan 7.000 pekerja.

Dalam laporan pendapatan kuartal ketiganya, PayPal mengalahkan ekspektasi pendapatan, tetapi saham turun setelah estimasi pendapatan kuartal perusahaan berada di bawah ekspektasi analis.

Sementara, Penjabat CFO Gabrielle Rabinovich mengungkapkan tentang proyeksi perusahaan untuk tahun 2023.

Baca Juga : Prabowo Teken Regulasi Baru, Buruh Korban PHK Dapat 60 Persen Gaji Selama Enam Bulan

"Kami beroperasi di lingkungan di mana kami pikir kami akan terus mengalami tekanan inflasi, di mana pertumbuhan upah riil akan terus menjadi negatif untuk jangka waktu tertentu, di mana pengeluaran diskresioner akan berada di bawah tekanan," kata Rabinovich.

"Kami menavigasi lingkungan itu sebaik mungkin, dan kami telah mempertimbangkan berbagai hasil pada pertumbuhan volume dan pertumbuhan pendapatan yang terkait dengan apa yang menurut kami dapat kami berikan dari sudut pandang margin operasi dan EPS," pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Suara.com
Berikan Komentar
Berita Terbaru