Ekonom Bandingkan Pertumbuhan Ekonomi Makassar di Era IAS: Sekarang Cenderung Tidak Bergerak

Penulis : Nurfitri
Pengamat Ekonomi Abdul Madjid Sallatu/Ist

Pengamatan Pakar Ekonomi menilai pertumbuhan ekonomi Makassar terlalu rendah dan cenderung tidak bergerak

PORTAL MEDIA, ID. MAKASSAR - Laju pertumbuhan ekonomi Kota Makassar pada tahun 2022 dilaporkan mengalami peningkatan di angka 5,40 Persen. Namun menurut Pengamatan Pakar Ekonomi angka tersebut terlalu rendah dan cenderung tidak bergerak.

Kepala BPS Kota Makassar Syahrir Wahab raihan sebelumnya menjelaskan Pertumbuhan Ekonomi Kota Makassar sempat mengalami minus pada masa pandemi 2020, kemudian mengalami peningkatan di tahun 2021 sebesar 4,47 persen dan tahun 2022 naik satu digit di angka 5,40 persen pada 2022.

"Persentase tersebut melampaui angka pertumbuhan provinsi dan nasional. Pihaknya mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi 5,09 persen dan nasional 5,31 persen pada 2022.

Baca Juga : Dikunjungi IAS, AGH Prof Wajedy Cerita Soal Kunjungan Harmoko Dan Akbar Tandjung

Berbeda pendapat, Pengamat Ekonomi Abdul Madjid Sallatu mengatakan, pertumbuhan ekonomi Kota Makassar cenderung tidak bergerak dan angka persentase yang didapatkan terbilang cukup rendah.

"Sepertinya ekonomi Kota Makassar sekarang tidak bergerak, angka pertumbuhan yang dicapai terlalu rendah. Ingat, di masa IAS (Ilham Arief Sirajuddin), pertumbuhan itu mendekati dua digit" ucapnya.

Akademisi Madjid menambahkan, ada dua sumber pertumbuhan ekonomi potensial di Kota Makassar. Pertama, sektor perdagangan, dan yang kedua sektor keuangan. Namun Kedua sektor ini menurutnya sulit disentuh oleh kebijakan ekonomi pemerintah kota.

Baca Juga : IAS Safari Politik ke Barru, Tekankan Kolaborasi untuk Bangkitkan Golkar Sulsel

"Disamping bahwa kedua sektor ini mampu berputar sendiri, yang berarti ada hal-hal berpengaruh pada skala ekonomi yang lebih besar, sehingga tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Kota Makassar. Atau, justru pada tingkat lokal di kota, sejumlah biaya transaksi yang menggerogoti penciptaan nilai tambah kedua sektor ini. Atau mungkin juga karena masyarakat konsumen lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan pokoknya"tegas Madjid saat di hubungi, Kamis, (02/03/2023).

Ia kembali menambahkan, merujuk pada data makro sulsel yang telah dirilis, pertumbuhan ekonomi Sulsel akhir-akhir ini mengalami pelemahan, yang dimana hal ini perlu menjadi perhatian dan pengamatan para pejabat pemerintah provinsi dan kabupaten/kota apalagi mengingat saat ini sudah memasuki tahun politik.

"Sepatutnya yang harus banyak ngomong adalah pelaku sektor perdagangan dan pelaku sektor keuangan itu sendiri. Data makro Sulsel yg sempat dirilis, nampaknya memang pertumbuhan ekonomi Sulsel melemah akhir-akhir ini. Hal ini penting dicermati oleh pejabat pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota, krn kita sdh berada dalam tahun politik. Berarti, perhatian para pelaku terhadap sektor perdagangan dan sektor keuangan dlm mencipta nilai tambah masih akan tetap seperti sekarang sampai tahun 2024"tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru