Kemenag Akui Kewalahan Awasi Travel Umrah Bodong
Sejauh ini, pengawasan dilakukan hanya untuk memastikan jumlah rombongan termasuk pengecekan maskapai. Juga tiket, hingga visa jemaah.
PORTALMEDIA.ID, JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) mengaku kecolongan terkait kasus travel umrah PT NSWM. Travel bodong yang tipu ratusan jemaah hingga ditelantarkan di Arab Saudi.
Kasubdit Pemantauan dan Pengawasan Ibadah Umrah dan Ibadah Haji Khusus Kementerian Agama, Mujib Roni, menyebut, banyaknya pintu untuk penerbangan jemaah melakukan umrah dan haji yang menjadi kendala pengawasan.
"Kami tidak sepenuhnya bisa melakukan verifikasi karena apa? Bandara-bandara keberangkatan itu cukup banyak. Di Soetta saja itu ada dua terminal yaitu 2f sama di terminal 3, belum lagi nanti di Surabaya, di Makassar," kata Mujib, dikutip Jumat, 31 Maret 2023.
Baca Juga : Tak Lagi Urus Haji, Kemenag Fokus Layanan dan Pendidikan Keagamaan
Mujib juga mengatakan, kecolongan itu bisa bersumber dari keterbatasan sumber daya Kemenag. Terutama dalam proses pengecekan setiap keberangkatan.
"Kami memiliki keterbatasan tenaga yang kami lakukan di bandara Soetta saja, yang lain-lain kami belum bisa lakukan. Untuk di Soetta yang kita lakukan adalah meminta mengkonfirmasi ulang tidak per jamaah jadi hanya tour leadernya saja," katanya.
Sejauh ini, ia mengaku pengawasan dilakukan hanya untuk memastikan jumlah rombongan termasuk pengecekan maskapai. Juga tiket, hingga visa jemaah.
Baca Juga : 27 Mei, Kemenag Pantau Hilal Awal Zulhijah di 114 Lokasi
Namun, proses itu tidak bisa dilakukan secara keseluruhan. Ia turut memohon maaf atas adanya celah bagi penyedia layanan travel yang bisa melakukan bisnis licik.
"Jadi mohon maaf selama ini kami tidak bisa memastikan satu per satu keberangkatan jamaah. Paling biasanya kami hanya menguji sampel dari 50 jamaah yang berangkat paling random itu antara 2-10 jamaah," jelasnya.
"Bisa saja kebetulan kasus Naila memang lolos karena tidak semua itu dipalsukan (dokumen jemaah). Bisa jadi ada yang 1 sampai 2 yang kebetulan (lolos) karena (proses pengawasan) random itu datanya benar," katanya melanjutkan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News