Buntut Kenaikan Harga Tiket Pesawat, Pengamat Prediksi Ekonomi akan Terpuruk Lagi, Pemerintah Bisa Apa?

ist

Pengamat ekonomi Hamid Paddu menyampaikan ulasannya terkait kenaikan harga tiket yang berdampak pada ekonomi Sulsel

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Beberapa minggu terakhir, lonjakan harga tiket pesawat dan listrik berdampak pada pergerakan ekonomi di Sulawesi Selatan. Akibatnya, beberapa industri seperti perhotelan dan pariwisata mengalami keterpurukan.

Jika dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, bulan Juni 2022, Sulsel mengalami inflasi sebesar 0,33 persen. Kenaikan dipengaruhi oleh naiknya indeks pada sebagian besar kelompok pengeluaran seperti, kelompok makanan minuman dan tembakau sebesar 0,68 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,41 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,08 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,31 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,67 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,004 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,91 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,21 persen.

Baca Juga : Kontribusi 22 Persen Belum Optimal, BI Ungkap Masalah Serius di Sektor Pertanian Sulsel

Menurut Hamid Paddu, Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin, bukan hanya Sulsel yang mengalami inflasi. Indonesia termasuk kota kota besar juga dilanda inflasi yang cukup besar.

"Kalau di Indonesia kita liat masih sedikit. Di atas target inflasi kita karena sudah lebih dari 4%, maksimum target inflasikan 4 persen. Kita khawatir ini akan meningkat terus. Makanya konsekuensi yang terjadi, peningkatan harga - harga kebutuhan dasar bahan pokok makan dan minum," ucapnya kepada portalmedia.id saat dikonfirmasi via telepon, Senin (25/7).

Lebih lanjut, kebutuhan industri dan transportasi kata dia, tentu akan mengganggu perekonomian. Sebab, jika membahas soal kenaikan harga listrik dan tiket pesawat, itu sama saja akan terjadi pembatasan mobilitas pergerakan atau akses mobilitas akan terganggu.

Baca Juga : Tumbuh 5,01% di Triwulan III- 2025, BI Prediksi Tren Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Terus Berlanjut

"Sehingga, ekonomi terganggu. Kita mungkin masih ingat, 2 tahun berturut - turut. Akibat pandemi, orang - orang tidak bisa bergerak. Artinya akses mobilitas terbatasi. Sekarang sudah menurun drastis pandemi, ekonomi mulai recovery. Mestinya, akses mobilitas itu dilancarkan. Tetapi, kenaikan harga transportasi khususnya tiket secara otomatis akan menghambat kembali akses mobilitas karena terlalu mahal," jelas Hamid.

Jika hal itu terjadi sambungnya, maka bisa jadi akan berdampak kembali pada sektor pariwisata dan perhotelan tentunya.

"Orang yang akan berkunjung ke beberapa tempat seperti Bali, Sulawesi, NTT misalnya akan terganggu. Tadinya diperkirakan akan terjadi peningkatan moblitas manusia yang datang ke Sulsel. Tapi karena harga tiket naik akibatnya terjadi penurunankembali," terangnya.

Baca Juga : Rencana Operasi Nataru Dimatangkan, Diskon Tiket Pesawat Resmi Diberlakukan

Kata Hamid kenaikan harga tiket terjadi karena bahan bakar pesawat naik. Ini juga karena harga minyak dunia naik termasuk indonesia.

"Avtur naik. Kemudian permintaan tinggi sementara jumlah pesawat lebih kecil dibanding tahun 2019, karena beberapa maskapai kan bermasalah sehingga dikurangi pesawat. Itu juga yang mempengaruhi naiknya harga tiket pesawat," bebernya.

Namun, tambahnya, pemerintah harus bisa turun tangan untuk mengatasi permasalahan ini. Supaya pihak maskapai tidak terlalu menggunakan batas atas.

Baca Juga : Gerakan Serbu Pasar dan Business Matching Dorong Akselerasi Ekonomi Sulsel

"Karena harga inikan paling tinggi, maka kemampuan masyarakat sangat memadai apalagi setelah pandemi. Pemerintah harusnya bisa memberikan insentif disaat seperti ini. Supaya tidak terdampak perekonomian di masyarakat. Bisa saja, PPn 11% dikurangi atau ditiadakan dulu. Nah ini yang mesti pemerintah lakukan tapi rupanya sampai sekarang kan belum ada. Jadi, kita perkirakan situasi situasi ini akan terus meningkat jika tidak dicari solusi yang tepat," tuturnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru