Pasok Ribuan Jengkol ke Ibu Kota, Sulsel Raup Untung Besar

ist

Tercatat, mulai periode Januari sampai awal Mei, jumlah jengkol yang dikirim ke berbagai daerah sudah menembus 1.108,4 ton.

PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Saat ini, Sulawesi Selatan telah menjadi salah satu daerah penghasil jengkol terbesar di Indonesia. Tercatat, mulai periode Januari sampai awal Mei, jumlah jengkol yang dikirim ke berbagai daerah sudah menembus 1.108,4 ton.

Jumlah jengkol yang dikirim itu untuk memenuhi permintaan dari Jakarta, Bogor maupun Surabaya. Ekspor domestik ini dilakukan melalui Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Makassar.

Proses pengirimannya dilakukan via udara, ada juga yang menggunakan jalur laut. Menurut Kepala Balai Karantina Pertanian Makassar, Luthfie Natsir, produksi jengkol Sulsel menunjukkan progres yang bagus. Ini terbukti dengan tingginya permintaan dari tiga daerah tersebut.

Baca Juga : Sulsel Raih Provinsi Terbaik Pertama di Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan 2025

”Komoditi jengkol ini hasil binaan BBKP Makassar dan Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Parepare, ini pengembangan komoditi yang berhasil guna. Ini sangat diminati di Jakarta dan Bogor, karena kebutuhan warung makan,” ujarnya Minggu (7/4).

Lebih lanjut Lutfie mengatakan, ekspor domestik jengkol ini bahkan nyaris dilakukan setiap hari. Dalam sekali pengiriman rata-rata mencapai 16.500 kg, dengan harga per kilo mencapai Rp140 ribu. Alhasil, jengkol menjadi penyumbang pendapatan daerah yang cukup tinggi.

”Jadi dua tempat pengeluaran, Bandara Sultan Hasanuddin dan Pelabuhan Soekarno Hatta. Ini rutin dilakukan, yang via laut itu tujuan Surabaya dan Jakarta, lalu via udara ke Jakarta dan Bogor,” lanjutnya.

Baca Juga : Sulsel Sabet Penghargaan Terbaik I Swasti Saba Kabupaten/Kota Sehat 2025

Untuk kontribusi pendapatannya sendiri mencapai Rp155,12 miliar. Ini baru untuk periode Januari hingga Mei. Tentu saja jengkol bisa menjadi sektor komoditas unggulan di Sulsel.

”Menurut keterangan pelaku usahanya, harga jengkol per kilo sangat signifikan, sekitar Rp140 ribu per kg. Kalikan saja dengan jumlahnya, kan besar,” bebernya.

Kata Luthfie, saat ini daetah penghasil jengkol paling bagus ada di Kabupaten Luwu. ”Kalau produsennya memang banyak di Luwu, tapi daerah lain juga ada,” terangnya.

Baca Juga : Sulsel Penyumbang Investasi Terbesar Ketiga

Sementara penanggung jawab wilayah kerja (wilker) Bandara Sultan Hasanuddin, Alamsyah Umar mengatakan, jengkol asal Sulsel ini memang rutin dikirim untuk memasok kebutuhan ibu kota.

”Sudah rutin dikirim ke Jakarta. Sebagian besar datang dari Bone-Bone, Luwu Utara,” jelas Alamsyah Umar.

Lebih jauh dia mengatakan, meskipun pengirimannya dilakukan secara rutin, tetapi BBKP Makassar terus melakukan pemeriksaan, demi.mencegah adanya Organisme Pengganggu Tanaman Karantina (OPTK).

Baca Juga : Sulsel Capai Kerawanan Pilkada Terendah Kedua

”Walaupun rutin, kami selalu melakukan pemeriksaan terhadap jengkol yang akan dikirim. Ini untuk memastikan tidak ada lahi OPTK yang ikut terbawa ke daerah tujuan.” lanjutnya.

Kemudiqn, Alamsyah juga mengaku pemeriksaan tidak hanya dilakukan secara fisik. Tetapi dokumen-dokumennya juga harus dipastikan aman, khususnya yang berkaitan dengan media pembawanya.

”Selain pemeriksaan fisik, pemeriksaan dokumen juga wajib kita lakukan. Ini untuk memastikan media pembawa yang dikirim sudah sesuai dengan dokumen yang disertakan,” tutupnya.

Baca Juga : Sulsel Sabet 12 Penghargaan dan Tuan Rumah 2026

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berikan Komentar
Berita Terbaru