Panas Berkepanjangan, Dampak El Nino Mengancam Pangan Indonesia
Krisis pangan ini berkombinasi dengan dampak El Nino dan politik proteksionisme pangan internasional.
PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Panas berkepanjangan yang terjadi akibat El Nino kini mengancam pangan Indonesia.
Krisis pangan ini berkombinasi dengan dampak El Nino dan politik proteksionisme pangan internasional.
Dari hasil analisis yang dilakukan oleh Institute for Demogrpahic and Poverty Studies (IDEAS) ancaman krisis pangan global perlu diantisipasi karena berdampak serius untuk keberlangsungan hidup kedepannya.
Baca Juga : Damkar Makassar Catat 398 Kasus Kebakaran Sepanjang 2023
"Indonesia harus sangat waspada karena akan terdampak baik dari krisis beras maupun gandum," ujar Direktur Institute for Demogrpahic and Poverty Studies (IDEAS) IDEAS Yusuf Wibisono, Minggu (6/8).
Tak hanya itu, kenaikan harga beras global juga dipastikan akan memberi tekanan harga ke negara-negara importir beras terbesar dunia. Misalnya saja negara China, Nigeria, Indonesia, Filipina dan Senegal.
Saat ini pola perubahan harga beras yang mengkhawatirkan dalam setahun terakhir. Sejak September 2022, harga beras menunjukkan kenaikan yang konsisten dari kisaran Rp 11.500 per Kg menjadi Rp 13.500 per Juni 2023.
Baca Juga : Kabar Gembira untuk Petani, Tambahan Alokasi Pupuk Bersubsidi Sedang Diproses
Dilansir dari kontan.co.id, hal tersebut saat ini tidak ada tendensi harga turun meski Indonesia telah melalui panen raya dari Maret hingga Juni 2023. Selain itu, harga beras juga tidak menalami penurunan meski pemerintah telah melakukan impor beras.
"Maka datangnya El-Nino yang berpotensi menurunkan produksi padi dan pasokan beras, akan membuat upaya stabilisasi harga beras ke depan semakin berat," katanya.
Di sisi lain, potensi ancaman inflasi pangan juga akan datang dari gandum, seiring terjadinya El-Nino dan mundurnya Rusia dari perjanjian black sea grain initiative. Pasalnya, Indonesia saat ini merupakan importir gandum terbesar dunia, dengan rerata impor tahunan di kisaran 10 juta ton per tahun.
Baca Juga : Produksi Bawang Merah Berkurang Karena El Nino, Pemprov Sulsel Bakal Bantu Sumur Bor untuk Petani Enrekang
Oleh karena itu, menurutnya, Indonesia berpotensi menghadapi ancaman inflasi pangan dari dua sisi sekaligus, yaitu dari tekanan harga beras dan gandum. Bahkan, tekanan inflasi gandum tersebut berpotensi semakin mendorong inflasi beras, lantaran sifat beras sebagai substitusi gandum.
"Pola kenaikan harga beras dari akhir 2022 hingga pertengahan 2023 ini dan ancaman politik proteksionisme pangan internasional, dan ditambah potensi krisis gandum, membuat kondisi kita saat ini menjadi rentan menghadapi El-Nino," terang Yusuf.
Yusuf memperkirakan, sebenarnya inflasi 2023 ini berpotensi menuju kisaran 3%. Namun dengan perkembangan terkini, terutama dampak El-Nino, serta politik pangan India dan Rusia maka inflasi tahun ini berpotensi menuju kisaran 4%.
Baca Juga : Bukan Diberi Air, Warga Terdampak Kekeringan Akan Diguyur BLT Rp400 Ribu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News