0%
Kamis, 04 Agustus 2022 18:38

Sebelum IAS Berjas Kuning, Golkar Sudah Retak

Penulis : wiwi amaluddin
Editor : Azis Kuba
Ilham Arief Sirajuddin didampingi oleh Nurdin Halid (kanan) dan Farouk M Betta (kiri)
Ilham Arief Sirajuddin didampingi oleh Nurdin Halid (kanan) dan Farouk M Betta (kiri)

Hoist Bachtiar mengatakan elektabilitasnua hampir sama rendah dengan Taufan Pawe, yakni dibawah 1 persen.

Sementara Taufan Pawe sebagai Ketua DPD I Golkar Sulsel tidak hadir saat itu, karena tidak mendapat undangan dari panitia acara berjuluk Halalbihalal kader Golkar dan relawan Airlangga Hartarto. Justru Bendara Golkar Sulsel, Ina Kartika Sari terlihat dalam acara tersebut.

Di acara tersebut, secara terbuka NH menyebut struktur kepengurusan Golkar Sulsel masih dipertanyakan karena bermasalah di Mahkamah Partai. “Kenapa saya tidak menggunakan struktur partai? Karena struktur di Sulsel masih bermasalah secara hukum,” kata NH, dalam acara tersebut.

Baca Juga : Jika Musda Diulur, Golkar Sulsel Terancam Tak Solid di Pemilu 2029

NH bahkan tidak pernah menyebut nama Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel sekalipun yang diisukan bakal maju di Pilgub 2024.

Pengurus elite DPP itu justru mendukung dan mendorong IAS maju di pilgub Sulsel dengan kendaraan Golkar.

“Golkar Indonesia, Airlangga Presidenku, IAS Gubernurku, itu doa semoga Allah mendengar dan diijabah,” kata NH di depan ribuan kader Golkar.

Baca Juga : Muhidin Titip Golkar Sulsel ke Rahman Pina

Bagi NH, IAS adalah orang yang terbuka dan orang yang mau jadi pemimpin.

Sempat Muncul Wacana Musdalub Golkar

Sejak resmi menjadi Ketua Golkar Sulsel hingga dilantik muncul isu Musyawarah Luar Biasa (Musdalub) untuk menganti Taufan Pawe sebagai ketua DPD I Golkar Sulsel.

Pengamat politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Hasrullah menilai proses politik sejak pasca musda Golkar di Jakarta tahun 2020 lalu sampai tidak menunjukkan hasil positif.

Baca Juga : DPR Dorong Grand Design Terpadu Pemulihan Aceh–Sumatera Pasca Bencana

Dia membandingkan pola kepemimpinan Taufan Pawe dengan pendahulunya, seperti Amin Syam, Syahrul Yasin Limpo (SYL), Nurdin Halid yang mampu merangkul seluruh faksi-faksi yang ada dan dijadikan sebuah kekuatan politik

“Saya melihat ada perbedaan sangat jauh dari kepemimpinan yang dulu, seperti di zaman Amin Syam, SYL dan NH, mereka semua mampu dapat merangkul seluruh faksi-faksi yang ada, sehingga penyatuan faksi dijadikan kekuatan besar, namun itu tidak terlihat dalam proses kepemimpinan di partai Golkar saat ini, ” katanya

Apalagi ruang komunikasi Ketua Golkar Sulsel dengan perangkat organisasi serta strukturnya termasuk dengan sejumlah para senior Golkar tidak terjalin dengan baik, dan jelas itu akan membahayakan partai Golkar sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar