Jaringan telekomunikai pun tidak berfungsi, sehingga satu-satunya cara korban banjir bandang di Pakistan berkomunikasi memang dengan melempar kertas ke seberang sungai dengan cara membungkusnya dengan plastik.
Meminta Bantuan Internasional
Pakistan meminta bantuan internasional lebih lanjut setelah banjir mendatangkan malapetaka di seluruh negeri.
Baca Juga : Menlu Sugiono Nilai Tiga Wamenlu Masih Kurang untuk Dukung Kinerja Kemlu
Negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Uni Emirat Arab, dan lainnya telah berkontribusi pada seruan bencana monsun tetapi lebih banyak dana diperlukan, kata seorang pejabat kementerian dalam negeri kepada BBC.
Lebih dari 1.000 orang telah tewas dan jutaan orang telah mengungsi sejak Juni, kata Salman Sufi, demikian seperti dikutip dari BBC, Minggu (28/8/2022)
Dia mengatakan pemerintah Pakistan melakukan segala daya untuk membantu orang.
Baca Juga : Indonesia Tekankan Kolaborasi Lintas Pilar ASEAN dalam Forum Politik dan Keamanan di Malaysia
Di barat laut negara itu, ribuan orang melarikan diri dari rumah mereka setelah sungai-sungai di provinsi Khyber Pakhtunkhwa meledakkan tepian mereka, menyebabkan banjir bandang yang kuat.
"Rumah yang kami bangun dengan kerja keras bertahun-tahun mulai tenggelam di depan mata kami," kata Junaid Khan, pemuda 23 tahun, kepada kantor berita AFP.
"Kami duduk di pinggir jalan dan menyaksikan rumah impian kami tenggelam," ujarnya.
Baca Juga : Kemlu RI Pastikan Tak Ada WNI Jadi Korban Bentrokan Bersenjata Thailand-Kamboja
Provinsi Sindh di tenggara negara itu juga telah terkena dampak buruk, dengan ribuan orang mengungsi dari rumah mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News