PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Aksi demonstrasi yang dilakukan sebagian besar mahasiswa di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) sudah memasuki hari ke enam. Aksi demonstrasi secara berturut-turut itu dilakukan mahasiswa semenjak ditetapkannya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Sabtu (3/9/2022) lalu.
Aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di sejumlah titik di Kota Makassar ini membuat kemacetan arus lalu lintas bahkan lumpuh total.
Aksi yang katanya membela rakyat kecil ini tentunya menuai berbagai polemik di sebagian besar masyarakat atau pengguna jalan.
Baca Juga : Stok BBM SPBU Swasta Mulai Langka, Operasional Shell di Bekasi Lumpuh Total
Lantas bagaimana tanggapan supir truk yang mobilnya kerap dijadikan sebagai panggung orasi mahasiswa?
Akbar yang berprofesi sebagai supir mobil kontainer mengungkapkan sejumlah kegelisahannya menghadapi aksi demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa.
"Kami dukung mahasiswa demo, tapi ingat juga batasan waktunya, dan jangan ganggu masyarakat, tetaplah demo dengan damai. Kami tidak apa-apa mobil kami ditahan para mahasiswa tapi jangan juga terlalu lama," jelas pria berusia sekitar 30 tahunan itu saat berbincang dengan Portalmedia di Jalan Sultan Alauddin, Kota Makassar, Kamis (8/9/2022).
Baca Juga : Polri Perbarui SOP Pengamanan Demonstrasi Berbasis HAM
Pria kelahiran Kota Makassar ini mengaku kenaikan harga BBM pastinya berdampak bagi kesejahteraan hidupnya dan keluarga.
Kata dia, semenjak harga BBM melonjak naik gaji di tempat perusahaan ia bekerja juga turun dinaikkan namun tidak mampu menutupi kebutuhan rumah tangga.
"Kami supir tentunya sangat berdampak juga naiknya BBM ini. Misal kalau saya kasi full tangki (Solar), 30 persen kenaikannya. Gaji dari perusahaan memang naik, tapi tidak seberapa terkait naiknya BBM, karena kami juga kasi makan keluarga, anak manami juga kebutuhan yang lain-lain," jelas pria tiga anak ini.
Baca Juga : Insiden di SPBU Bone Jadi Pelajaran, Pertamina Janji Tingkatkan Komunikasi Lintas Budaya Operator
Akbar juga mengungkapkan, angkutan yang dibawa tentunya mempunyai target waktu membawa muatan hingga sampai tujuan. Aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa pun tentunya menghambat perjalanannya.
"Di sisi lain kita juga sebagai supir punya targetan muatan. Bayangkan mi saja kalau masukki tol itu tidak cukup kalau Rp 50 ribu dibayar untuk mobil seperti ini, apalagi kalau naikmi berapa memang baru kita yang bayar itu. Belum lagi kalau lamaki di jalan karena macet," tukasnya.
Sebagaimana diketahui, aksi unjuk rasa kembali dilakukan ratusan mahasiswa dari aliansi mahasiswa dimulai sejak sekira pukul 13:14 Wita siang tadi. Massa aksi telah menutup dua jalur di ruas Jalan Sultan Alauddin, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Selain di Jalan Sultan Alauddin, aksi demonstrasi juga digelar di sejumlah titik di Kota Makassar. Seperti di depan gedung DPRD Sulsel, kawasan Fly Over, Jalan Urip Sumiharjo depan kampus UMI Makassar, dan Jalan Perintis Kemerdekaan depan pintu 1 Universitas Hasanuddin (Unhas).
Di Unhas sendiri sempat terjadi kericuhan lantaran warga yang muak akibat penutupan jalan yang dilakukan mahasiswa. Warga atau pengendara disana melempar batu ke arah gerombolan mahasiswa hingga akhirnya mahasiswa terpaksa mundur masuk ke dalam kampus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News