PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR – Ketua PRIMA Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulawesi Selatan, Tarmizi Tahir, menilai pelaksanaan Evaluasi Masjid 2025 akan kehilangan makna strategis apabila tidak melibatkan pemuda dan remaja masjid secara aktif.

Menurutnya, membahas masa depan masjid tanpa menghadirkan generasi muda sebagai bagian dari proses evaluasi merupakan sebuah ironi.
Tarmizi menegaskan bahwa evaluasi masjid seharusnya diposisikan sebagai upaya strategis untuk menjaga relevansi masjid di tengah perubahan sosial yang terus berkembang.
Baca Juga : DMI Sulsel Kecipratan Dana Rp975 Juta dari Pemprov Sulsel
Masjid, kata dia, kini berada di persimpangan tuntutan spiritual, sosial, dan kultural masyarakat yang semakin kompleks.
“Evaluasi masjid bukan sekadar rutinitas administratif, tetapi instrumen reflektif untuk memastikan fungsi masjid berjalan seimbang, adaptif, dan berkelanjutan,” ujar Tarmizi Tahir.
Ia menjelaskan, dalam perspektif keislaman, semangat evaluasi sejalan dengan prinsip islah atau perbaikan berkelanjutan. Prinsip tersebut, lanjutnya, menuntut keterlibatan kolektif seluruh elemen umat, termasuk pemuda.
“Transformasi masjid tidak akan bermakna tanpa partisipasi manusia itu sendiri. Evaluasi ideal bukan hanya mengukur capaian masa lalu, tetapi juga membuka ruang dialog lintas generasi, terutama dengan pemuda,” katanya.
Tarmizi menyoroti bahwa dalam banyak forum evaluasi masjid, pembahasan sering kali terjebak pada laporan administratif seperti jumlah kegiatan dan keuangan. Padahal, menurutnya, aspek investasi masa depan, khususnya peran remaja masjid, kerap terabaikan.
“Evaluasi yang tidak menyentuh peran pemuda menandakan adanya gap komunikasi yang serius. Padahal masjid di era digital sangat bergantung pada energi pemuda, mulai dari pengelolaan komunitas, konten kreatif, hingga menciptakan lingkungan masjid yang ramah generasi muda,” jelasnya.
Secara sosiologis, Tarmizi menilai masjid merupakan institusi sosial yang hidup dan berfungsi sebagai pusat ibadah, pendidikan, pembinaan moral, serta penguatan solidaritas sosial.
Dalam konteks ini, pemuda memiliki posisi strategis karena berada langsung di lapangan dan memahami perubahan pola partisipasi jamaah.
“Sangat disayangkan jika pemuda hanya diposisikan sebagai penerus. Mereka adalah strategic thinker dan strategic executor hari ini. Jika suara pemuda absen dalam evaluasi, hasilnya berisiko normatif dan jauh dari realitas,” tegas Tarmizi.
Ia mengingatkan bahwa Islam sendiri menempatkan pemuda pada posisi sentral dalam keberlangsungan dakwah.
Karena itu, pelibatan pemuda dalam evaluasi masjid bukan sekadar simbol representasi, melainkan kebutuhan untuk menjamin kualitas kebijakan dan keberlanjutan program.
Tarmizi menekankan bahwa gagasan tersebut merupakan ajakan kolaboratif agar evaluasi masjid ke depan semakin kaya perspektif dan berdampak nyata.
“Dengan melibatkan pemuda secara bermakna, mulai dari perumusan indikator hingga rekomendasi, evaluasi masjid akan lebih komprehensif, aplikatif, dan visioner,” katanya.
Ia menambahkan, masjid yang besar bukan hanya diukur dari kemegahan bangunan atau kerapian tata kelola, tetapi dari kemampuannya merangkul seluruh generasi.
“Evaluasi Masjid 2025 akan bernilai strategis jika menjadi ruang dialog inklusif, tempat kebijaksanaan para sesepuh bertemu dengan energi dan kreativitas pemuda. Di situlah masjid tumbuh sebagai pusat peradaban umat yang hidup dan membumi,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News