Makassar, portalmedia.id — Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran kembali berada di jurang ketidakpastian. Dilansir dari laporan Fox News Live, Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengajukan sejumlah tuntutan perubahan mendadak terhadap draf perjanjian damai yang sebenarnya telah disepakati oleh kedua belah pihak pada pekan lalu.
Langkah mengejutkan ini diambil oleh Trump setelah menggelar pertemuan intensif bersama tim keamanan nasionalnya pada hari Jumat. Seperti dikutip dari media Axios, Trump menuntut penggunaan bahasa hukum yang jauh lebih keras, terutama yang berkaitan dengan komitmen nuklir Teheran serta jaminan pembukaan kembali jalur laut strategis di Selat Hormuz.
Keberatan Trump Soal Aliran Dana ke Iran
Baca Juga : Gencatan Senjata Rapuh! AS Gempur Basis Drone Iran, Israel Targetkan Beirut
Selain masalah nuklir dan jalur maritim, presiden ke-47 Amerika Serikat tersebut juga menyatakan kekhawatiran mendalam mengenai skema bantuan finansial yang akan diterima Iran berdasarkan proposal yang ada saat ini. Trump menilai kelonggaran ekonomi untuk Teheran harus ditinjau ulang agar tidak menguntungkan pihak lawan secara sepihak.
Padahal, tepat satu minggu yang lalu, Trump sendiri yang mendeklarasikan bahwa kesepakatan damai ini sudah sebagian besar final. Perubahan sikap yang drastis ini langsung memicu gejolak baru di panggung geopolitik global.
Presiden Iran Dikabarkan Mengundurkan Diri
Baca Juga : Kebuntuan Perang Trump-Iran dan Gaza Picu Lonjakan BBM, Begini Dampaknya Bagi Warga Makassar
Situasi kian rumit menyusul laporan internal dari Teheran yang dihimpun oleh Fox News, yang menyebutkan bahwa Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, telah mengajukan surat pengunduran diri. Kabar mundurnya Pezeshkian dipicu oleh tekanan berat dari faksi garis keras (hardliners) di internal pemerintahan Iran yang merasa dikesampingkan selama proses negosiasi berlangsung.
Merespons ketidakpastian politik di Iran, Donald Trump tidak tinggal diam. Ia langsung melayangkan peringatan keras bahwa militer Amerika Serikat memegang kendali penuh dan siap untuk melanjutkan tindakan militer kapan saja jika situasi memburuk. (red)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News