PORTALMEDIA.ID, JAKARTA – Imigrasi menggandeng Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB) dalam menginisiasi “Pagar Digital”.
Langkah kolaboratif ini bertujuan meningkatkan pengawasan keimigrasian di wilayah perbatasan Indonesia yang rawan pelintas ilegal.
Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, menjelaskan bahwa kerja sama ini lahir dari komitmen untuk mendorong teknologi buatan anak bangsa dalam menjaga kedaulatan negara.
"Kita memiliki 3.111 km wilayah perbatasan darat yang sangat luas dan rawan perlintasan ilegal. Dari total tersebut, pos lintas batas yang aktif masih sangat terbatas," ujar Hendarsam usai rapat pembahasan bersama perwakilan ITB di Gedung Direktorat Jenderal Imigrasi, Selasa (30/06/2026).
Berdasarkan data perlintasan pada Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Darat periode Januarihingga April 2026, volume pelintas resmi tercatat mencapai 679.867 orang.
Namun demikian, tantangan sesungguhnya adalah mengawasi pelintas ilegal di jalur-jalur tikus di sepanjang garisperbatasan.
Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan infrastruktur digital, risiko keamananpersonel di area konflik, serta tingginya kerentanan terhadap kejahatan lintas batas sepertiTindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), penyelundupan manusia, dan penyelundupankomoditas.
“Pagar Digital ini kami prioritaskan pada wilayah darat di Kalimantan yang berbatasan denganMalaysia, Papua yang berbatasan dengan Papua Nugini, dan Nusa Tenggara Timur yangberbatasan dengan Timor Leste. Sementara untuk wilayah laut, fokus diarahkan ke Kepulauan Riau, Batam, dan jalur-jalur penyeberangan sekitarnya,” papar Hendarsam.
Untuk itu, Imigrasi berencana mengoptimalkan teknologi drone hasil pengembangan ITB sejak2019 yang diproduksi bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI).
Drone ini dirancang untukberoperasi nonstop 24 jam pada garis perbatasan dengan memanfaatkan pasokan daya daripanel surya (solar panel).
Sistem pengawasan udara ini akan mengombinasikan dua tipe drone yang bekerja dalam satukesatuan, yaitu Drone HALE (High-Altitude Long-Endurance) yang dapat terbang konstan diketinggian 1.000 meter selama 24 jam untuk melakukan pemantauan perimeter jarak jauh; serta Drone Mantis, yang berfungsi melakukan pendekatan taktis dan intersepsi visual jarak pendekbegitu drone HALE mendeteksi pergerakan mencurigakan.
Sebelumnya teknologi ini telahdiimplementasikan di sektor agrikultur dengan hasil yang memuaskan.
“Pagar digital memang tidak secara fisik bisa menghentikan orang, tetapi memberikankesadaran situasional (situational awareness) secara real-time. Saat drone mendeteksipergerakan di blind spot perbatasan, sistem langsung mengirimkan koordinat ke pos imigrasiatau penjaga perbatasan terdekat. Langkah ini bisa memangkas waktu respons patrolikonvensional secara drastis,” tambah Hendarsam yang menegaskan bahwa hal ini menjadi keunggulan dari sistem kolaborasi ini.
"Drone juga memperluas daya jangkau petugas kami. Mengingat luasnya wilayah pengawasan,keberadaan mata udara yang cepat dan fleksibel memberikan data awal yang akurat sebelumtim bergerak melakukan penindakan. Ini jauh lebih hemat dibandingkan harus mengoperasikanaset udara berawak," papar Hendarsam.
Sebagai rencana jangka panjang, program Pagar Digital ini diproyeksikan menjadi fondasiutama dalam membangun kemandirian siber (cyber security) di lingkungan keimigrasiannasional.
"Kerjasama antara Imigrasi, ITB, dan PT DI adalah upaya kami untuk memastikan bahwapengawasan kedaulatan negara tidak bergantung pada sistem asing. Dengan mengamankanjalur-jalur tidak resmi lewat teknologi siber dan patroli udara domestik, kita dapat meminimalkancelah bagi pelaku TPPO maupun pelintas ilegal, sekaligus mengaktualisasikan kemandirianteknologi nasional secara berkelanjutan," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
