PORTALMEDIA — Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar terus memperkuat upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak melalui pembentukan Shelter Warga di seluruh wilayah Kota Makassar.
Program tersebut menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kasus kekerasan sejak tingkat masyarakat.
Kepala DP3A Kota Makassar, Drg Ita Istiana, mengatakan pihaknya menargetkan seluruh kelurahan di Kota Makassar telah memiliki Shelter Warga pada tahun 2027. Keberadaan shelter dinilai penting sebagai ruang aman sekaligus garda terdepan dalam mendeteksi dan menangani berbagai persoalan yang dihadapi perempuan dan anak.
“Target kami pada tahun 2027, Shelter Warga sudah terbentuk secara menyeluruh. Ini menjadi garda terdepan ketika terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan masyarakat,” ujar Ita Istiana saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun Anggaran 2026 Angkatan V bersama Anggota DPRD Kota Makassar, Andi Tenri Uji Idris, S.Sos., Jumat (30/5/2026).
Ancaman Radikalisme Digital Mengintai Anak
Selain persoalan kekerasan fisik dan seksual, DP3A juga menyoroti ancaman baru yang berkembang di era digital, yakni paparan paham radikal terhadap anak-anak melalui media sosial dan platform komunikasi daring.
Ita mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sejumlah anak di Makassar yang telah teridentifikasi terpapar jaringan ekstremisme. Kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi seluruh pihak, terutama orang tua.
“Saat ini tercatat ada lima anak laki-laki di Makassar yang telah masuk dalam jaringan teroris. Banyak orang tua yang tidak menyadari kondisi tersebut,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan temuan di lapangan, terdapat puluhan grup percakapan digital yang diduga menjadi media penyebaran paham radikal kepada anak-anak.
“Anak-anak sekarang sangat cakap menggunakan teknologi. Melalui media sosial, mereka bisa diarahkan secara perlahan hingga masuk ke dalam jaringan tertentu tanpa disadari. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Andi Tenri Uji: Orang Tua Harus Lebih Peduli
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Kota Makassar, Andi Tenri Uji Idris, mengajak seluruh orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak, baik di lingkungan sekitar maupun di dunia digital.
Menurutnya, kepedulian keluarga menjadi benteng utama dalam mencegah anak terjerumus pada berbagai bentuk kekerasan, pergaulan bebas, maupun pengaruh negatif lainnya.
“Saya masih sering melihat anak-anak usia sekolah berada di luar rumah hingga larut malam. Saya memohon kepada para orang tua untuk lebih memperhatikan dan menjaga anak-anak kita agar mereka memiliki masa depan yang baik,” ujarnya.
Politisi Fraksi PDI Perjuangan yang akrab disapa Besti itu juga berharap seluruh pihak dapat berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak.
“Jangan sampai hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi pada anak-anak kita. Karena itu, peran DP3A sangat penting sebagai stakeholder utama dalam perlindungan perempuan dan anak di Kota Makassar,” tegasnya.
Apresiasi dan Masukan dari Masyarakat
Upaya pemerintah dalam memperkuat perlindungan perempuan dan anak mendapat apresiasi dari pegiat sosial, Arsoni, S.H. Menurutnya, keberpihakan negara terhadap isu perlindungan anak dan perempuan saat ini semakin terlihat melalui berbagai program yang dijalankan hingga tingkat masyarakat.
“Sudah sangat tepat negara memberikan perhatian besar terhadap perlindungan perempuan dan anak. Mulai dari pemerintah pusat hingga tingkat bawah, semua bergerak untuk memberikan perlindungan yang lebih baik,” ujarnya.
Meski demikian, masyarakat juga mendorong agar program edukasi dan sosialisasi pencegahan kekerasan lebih masif menjangkau lingkungan sekolah.
Salah seorang peserta kegiatan, Syarif Al Qadri, menilai sosialisasi kepada siswa, khususnya tingkat Sekolah Dasar (SD), masih perlu diperkuat.
“Edukasi mengenai pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan sangat penting diberikan sejak dini. Karena itu, kami berharap sosialisasi dapat lebih banyak menyasar sekolah-sekolah dasar,” katanya.
Menanggapi aspirasi tersebut, DP3A Kota Makassar menyatakan komitmennya untuk terus memperluas jangkauan edukasi dan penguatan perlindungan anak melalui berbagai program, termasuk pengembangan Shelter Warga yang ditargetkan terbentuk secara merata pada tahun 2027.
Dengan kolaborasi pemerintah, legislatif, dan masyarakat, diharapkan Kota Makassar dapat menjadi lingkungan yang semakin aman, ramah, dan melindungi setiap perempuan serta anak dari berbagai bentuk kekerasan maupun ancaman di era digital.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

