0%
Minggu, 23 Oktober 2022 21:39

Polri Bakal Bentuk Tim Usut Kematian Anak karena Gagal Ginjal Akut

Editor : Rasdiyanah
Ilustrasi. Foto: ist
Ilustrasi. Foto: ist

Menyusul tingginya angka kematian gagal ginjal akut di Indonesia, Polri bakal membentuk tim untuk mengusut hal ini.

PORTALMEDIA.ID, JAKARTA - Polri menindaklanjuti permintaan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy untuk mengusut kasus Gagal Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) pada Anak-anak.

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo menerangkan, pihaknya membentuk tim dan segera menjalin komunikasi dengan pemangku kebijakan untuk mendalami penyebab terjadinya GGAPA pada Anak-anak.

"Tentunya Polri akan segera membentuk tim dan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan BPOM untuk bersama mendalami kejadian tersebut sesuai atensi pimpinan," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip dari liputan6, Minggu (23/10/2022).

Baca Juga : Menko PMK Pratikno Serahkan Bantuan Rp14,4 Miliar untuk Penanganan Bencana di Sulsel

Seperti dikutip dari situs resmi Menko PMK, Muhadjir Effendy menyampaikan permintaan tersebut usai mengadakan Rapat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait secara virtual pada (21/10/2022).

"Pengusutan ini penting untuk memastikan ada tidaknya tindak pidana di balik kasus tersebut. Permintaan disampaikan mengingat kejadian gangguan ginjal kronis ini sudah mengancam upaya pembangunan SDM, khususnya perlindungan terhadap anak," ujar Menko PMK seperti dikutip, Minggu (23/10/2022).

Berdasarkan data, GGPA menimpa lebih 208 anak. Adapun, 118 anak meninggal dunia.

Baca Juga : Pratikno Akui Interior Kantor Gubernur Sulsel Keren

Penyebabnya diduga kuat berasal dari cemaran zat Etilen Glikol (EG) dan Deitilen Glikol (DG) pada obat jenis sirup. Di mana bahan baku obat tersebut semuanya masih import.

Terjadi di 3 Negara

Sampai sejauh ini, berdasar data Kemenkes, kasus gagal ginjal akut atau gangguan ginjal 2022 ini hanya terjadi di tiga negara, yaitu Indonesia (118 kematian) Gambia (50 ) dan Nigeria (28 kematian).

"Oleh sebab itu perlu diadakan pelacakan mulai dari asal muasal bahan baku, masuknya ke Indonesia hingga proses produksi obat-obat yang mengandung kedua zat berbahaya tersebut," ungkap Muhadjir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Redaksi Portal Media menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@portalmedia.id atau Whatsapp 081395951236. Pastikan Anda mengirimkan foto sesuai isi laporan yang dikirimkan dalam bentuk landscape
Berikan Komentar