PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Bank Indonesia (BI) Sulsel memprediksi terjadinya resesi global di tahun 2023. Namun, pihaknya masih optimis untuk dapat meminimalisir resiko yang akan terjadi.
Menurut, Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel Fadjar Majardi, walaupun resiko resesi akan muncul nantinya, Sulsel masih memiliki potensi dan modal yang besar untuk dapat tumbuh kuat baik dari potensi sumberdaya alam, tenaga kerja, dan posisinya sebagai hub kawasan timur Indonesia.
"Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, peningkatan produksi bahan pangan Sulsel berpeluang terus didorong untuk memenuhi kebutuhan nasional yang terus meningkat," ucapnya, Kamis(01/12).
Baca Juga : Produktivitas Fantastis, BI Panen Perdana Padi Gamagora 7 di Maros
Selanjutnya, produksi dan hilirisasi nikel kata Fadjar akan tetap tumbuh seiring dengan meningkatnya potensi pasar terkait tren kendaraan listrik dengan baterai berbahan baku nikel.
"Hadirnya beberapa kawasan industri di Sulsel yang didukung oleh iklim investasi yang kondusif dan komitmen pemerintah daerah juga menjadi keunggulan Sulsel dibandingkan daerah lain," beberny.
Potensi Sulsel yang cukup besar tersebut tuturnya, diharapkan mampu membawa optimisme pada pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat pada tahun 2023.
Baca Juga : Kontribusi 22 Persen Belum Optimal, BI Ungkap Masalah Serius di Sektor Pertanian Sulsel
Maka dari itu, pengendalian inflasi untuk menjaga daya beli dan belanja masyarakat menjadi motor pendorong pertumbuhan ekonomi yang terus diperkuat melalui sinergi dan komitmen berbagai pihak.
Implementasi Kerjasama Antar Daerah (KAD) serta program-program untuk mendukung kelancaran distribusi dan pemenuhan pasokan bahan pokok, termasuk program yang dilaksanakan pada Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) tahun 2022 juga ditujukan dan dilanjutkan untuk menahan inflasi bahan pangan sampai dengan 2023.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News