PORTALMEDIA.ID, JAKARTA - Wacana perpanjangan masa jabatan presiden kembali muncul. Hal ini disinggung oleh Ketua MPR Bambang Soesatyo saat menyinggung data survei Poltracking yang mengungkap kepuasan pada Jokowi.
Survei dengan 1.120 responden itu menyebut ada 73,2 persen yang puas dengan kinerja Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin, yang tidak puas sebesar 19,0 persen.
"Pertanyaan pentingnya bagi saya bukan soal puas tidak puasnya publik, tapi apakah ini berkolerasi dengan keinginan publik untuk terus Presiden Jokowi ini memimpin kita semua? Artinya pemerintah hari ini 2 tahun lalu telah kehilangan kesempatan untuk bergerak karena Covid 2 tahun," ucap Bamsoet, sapaan akrabnya, merespons survei, dikutip dari kumparan, Kamis (8/12/2022).
Baca Juga : Tak Hadiri Upacara Hari Lahir Pancasila, Pihak Ajudan Sebut Jokowi Tak Terima Undangan
Seperti diketahui, wacana tiga periode sudah dikecam luas dan ditolak oleh Presiden Jokowi, termasuk peluang amandemen UUD 1945 sebagai jalan masuknya juga sudah ditutup..
"Kemudian deras sekali pro kontra di masyarakat ada yang memperpanjang, ada yang mendorong 3 kali. Tapi terlepas itu saya sendiri ingin tahu keinginan publik apa?" imbuhnya.
Baca Juga : Jokowi Pakai Passapu di Rakernas PSI
"Apakah korelasinya antara keinginan besar masyarakat untuk lebih lama dipimpin Pak Jokowi atau ini hanya kepuasan terhadap kinerja hari ini?" lanjut Bamsoet.
Bahlil Ibaratkan Presiden Sopir Mobil
Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, dalam kesempatan sama juga menyinggung soal perpanjangan jabatan presiden terkait dengan temuan survei kepuasan pada kinerja Jokowi-Ma'ruf.
Bahlil menyinggung berbagai capaian bidang ekonomi di bawah Presiden Jokowi di tengah ancaman krisis yang juga menghantui Indonesia. Tapi Jokowi bisa melalui tantangan itu.
Baca Juga : Sentil Senior Golkar saat Rapimnas, Bahlil: Jangan Terlalu Lama Merasa Jadi Ketua Umum
"Terus bagaimana bisa mempertahankan ekonomi nasional? Hanya butuh stabilitas, butuh kepemimpinan yang kuat. Kalau coba-coba ya silakan aja supaya kita menanggung jawab semua," tutur Bahlil.
"Indonesia itu seperti jalan. Kalau dulu jalannya smooth, maka ibarat mobil Innova, sopir yang mau belajar dengan jalanan licin akan jalan baik. Tapi kondisi hari ini jalan berlubang dan di depan ada dua tikungan. Satu selamat dan satu masuk jurang," imbuhnya.
Menurutnya, jika sopir baru belajar bikin sakit pinggang di mobil. Dan ketika sopir enggak mahir milih tikungan, yang masuk jurang bukan hanya mobil dan sopir, tapi semua penumpangnya akan masuk kalau sopir enggak hati-hati
Baca Juga : Mantan Relawan Desak Jokowi Segera Bertobat
"Gimana agar semuanya selamat? Ditanyakanlah kepada rumput yang bergoyang," ucap Bahlil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News