PORTALMEDIA.ID, MAKASSAR - Minggu, 28 Januari 2023. Cuaca di Kota Makassar pukul 14.00 Wita agak dingin. Sejak pagi tadi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan lebat akan mengguyur Kota Daeng hingga malam hari.
Di salah satu cafe yang berlokasi di Jalan Toddopuli misalnya, suasana damai seakan bercengkrama dengan gemuruh hujan lebat. Suara pintu yang pelan-pelan dibuka oleh pelanggan yang berkunjung, terkalahkan dengan nyaringnya bunyi handphone (HP) yang sedari tadi tergeletak di atas meja.
Tombol hijau yang di geser ke atas pada layar HP, menandakan percakapan sedang dimulai. Dibalik telepon, suara parau seorang pria mulai terdengar. Pelan-pelan, ia memperkenalkan nama dan asalnya, serta cerita panjangnya berjuang untuk dua garis biru.
Baca Juga : Tokcer, Alpha IVF Malaysia Gunakan Teknologi AI Hasilkan Bayi Tabung
Adalah Muniruddin (bukan nama sebenarnya) bersama sang istri. Pasangan suami istri (Pasutri) ini mengawali percakapan hangat lewat telepon seluler. Mereka dari keluarga sederhana yang telah menempuh usia pernikahan selama tiga tahun sejak 2019 lalu .
Kisah diawali saat pria 32 tahun ini berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya kepada portalmedia.id. Dari nada yang disampaikan melalui telepon, Munir mencoba mengingat-ingat kembali saat dirinya memutuskan untuk menikah dan berkomitmen atas nama agama dan budaya yang dianut keluarganya.
Kata dia, sembilan bulan awal pernikahan yang dijalaninya, semua begitu indah. Pujian dan ucapan selamat atas pernikahan membanjiri keharmonisan keluarga kecil itu. Hingga memasuki 1 tahun pernikahan. Ia belum memiliki momongan. Pertanyaan dan desakan keluarga menyusul.
Baca Juga : Primaya Kembangkan Teknologi untuk Keberhasilan Program Bayi Tabung
"Waktu itu, saya tidak bisa apa-apa. Antara masih cuek dan tidak. Cueknya karena baru satu tahun kami menikah. Masih dianggap wajar. Tapi, disisi lain, orang tua sudah sering bertanya. Baik saat berkunjung ke rumah mereka, maupun saat membangun silaturahim lewat telepon. Dan itu membuat saya dan istri agak risih," ucapnya.
Kadang, karena desakan itu, Munir dan istri sering bertengkar untuk hal-hal sepele. Hari demi hari mereka jalani dengan tuntutan dua garis biru yang tak kunjung usai. Belum lagi, persoalan lain yang seakan menjadi pelengkap masalah mereka. Munir sering merasa frustasi. Hingga menyalahkan istrinya yang tak bisa mengandung. Ia menganggap, istrinya lah yang menjadi biang kerok atas masalah yang dihadapinya. Relasi kuasa yang diperankan Munir dalam keluarga kadang membuat dirinya bertindak semena-mena.
"Waktu itu, saya rasa istriku masalahnya. Pernah mi hampir pisah. Karena keluarga terutama orang tua yang mau sekali mi menimang cucu. Cuma waktu itu, kami bicara dan pikirkan baik-baik solusinya. Akhirnya tidak jadi pisah," pungkasnya dalam logat Makassar.
Baca Juga : Morula IVF Makassar Buka Pelayanan Bayi Tabung di RSIA Sentosa
Munir dan istri memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan. Setelah menjalani prosedur pemeriksaan, akhirnya ditemukan hasil kalau sang istri normal dan tak ada masalah pada organ vital dan sel telurnya. Justru setelah dilakukan pemeriksaaan lanjutan, ternyata, Munir lah yang bermasalah pada produksi sperma.
"Kata dokter, sperma yang dikeluarkan organ vital ku tidak mencukupi 100 juta alias sedikit. Padahal, setiap berhubungan suami istri, saya selalu mengeluarkan cairan putih. Tapi ternyata, kata dokter, yang saya keluarkan saat ejakulasi adalah air mani yang sangat berbeda dengan sperma yang dibutuhkan sel telur," terangnya.
Setelah menjalani pemeriksaan itu, Munir semakin stres. Ia bahkan menyalahkan diri sendiri dan merasa bersalah atas tuduhan yang dilayangkan untuk sang istri. Kadang, untuk sekadar mengisi lambung tengah, ia merasa enggan melakukannya. Setiap makanan yang masuk ke dalam mulut, akan sulit dicerna. Lantaran, beban pikiran yang berat.
"Waktu itu, hampir ma putus asa. Tapi, istri ku selalu support dan tenangkan hati dan pikiranku. Makanya, waktu itu kami memutuskan untuk berobat rutin. Apapun akan kami lalukan agar saya bisa sembuh dan memiliki anak," pungkasnya.
Akhirnya, Munir mulai melakukan terapi di Rumah Sakit. Ia mengkonsumsi obat stimulus dengan inseminasi yang dibarengi dengan pola hidup sehat. Tak jarang, Munir juga berkunjung ke dukun untuk memperlancar keinginannya memiliki buah hati.
Kebiasaan itu, dilakukan Munir selama dua tahun lebih. Sudah banyak waktu dan ongkos yang dikorbankan. Namun, impiannya itu belum juga kelihatan. Munir sudah mulai lelah. Ia putus asa dan pasrah atas keadaan yang menimpanya.
"Saya sudah menyerah waktu itu. Capek ma. Banyak mi kulakukan tapi belum dikasih kesempatan untuk mendapatkan momongan," tuturnya dalam logat Makassar.
Namun, tak sampai disitu perjalanan Munir, istilah "Pasanganku adalah perisaiku, pasanganku adalah kekuatanku" menjadi tombak untuk Munir agar tetap mendengar motivasi dari istrinya. Walau telah jauh menapaki jejak bertualang di Kota Makassar. Munir tetap kekeh.
"Akhir tahun lalu itu, saya ketemu teman dan disarankan untuk ikut program bayi tabung yang dikembangkan oleh Rumah Sakit Primaya IVF Makassar. Awalnya saya ragu. Tapi saya tetap mencoba," ujarnya.
Terletak di jalan Urip Sumoharjo No.43 Kota Makassar, Munir dan istri berkunjung serta mencari tahu tantang program bayi tabung tersebut. Mereka berharap agar impiannya bisa terwujud lewat program ini.
"Saya memilih program bayi tabung karena mungkin ini adalah petunjuk. Panjang perjalanan dan usaha yang telah saya lakukan demi memilki anak. Saya juga memikirkan umur istri saya yang makin kesini semakin bertambah. Kesuburan sel telurnya juga harus dijaga," terangnya.
Munir berharap, agar program bayi tabung yang dihadirkan Primaya dapat berjalan sesuai harapan. "Semoga Primaya adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk kami berdua. Semoga kami mendapatkan rezeki yang tidak bisa dinilai oleh materi. Semoga Primaya adalah jawaban dari segala doa kami," harapnya.
Masalah Sperma Bisa Diobati Lewat Terapi dan Edukasi

Dokter Androlog Primaya IVF Makassar dr. Rahmawati Thamrin menjelaskan beberapa permasalahan mendasar sepasang suami istri tak bisa memiliki anak. Salah satunya terletak pada spermatozoa atau yang akrab dikenal dengan sebutan sperma.
Namun, perlu untuk diketahui terlebih dahulu, kalau air mani dan sperma itu adalah dua hal yang berbeda. "Biasanya laki - laki menganggap kalau sudah ada air mani yang keluar dari organ vital, mau encer atau kental sudah menandakan hal baik. Padahal sperma dengan air mani itu berbeda. Kalau sperma biasanya dapat diketahui lewat hasil laboratorium dan tidak dapat dilihat melalui mata telanjang," terangnya.
Nah, penyebab seorang pria susah mengeluarkan sperma, karena tempat yang kurang nyaman atau memang tidak dapat ereksi atau organ vitalnya tidak dapat berdiri secara maksimal.
"Makanya, dia susah mengeluarkan sperma. Biasanya ada gangguan seksual juga. Selain itu, kadang pria susah melakukan masturbasi. Makanya perlu dilakukan edukasi. Jika setelah diedukasi masih bermasalah maka akan diberikan obat untuk perbaikan ereksinya," ucap dr. Rahmawati.
Dari segi psikologis lanjutnya, pengobatan seksual yang dihadirkan Primaya terletak pada masturbasi. Banyak pria yang susah melakukan masturbasi karena telah memiliki pasangan, padahal masturbasi itu penting untuk menstimulus organ vital.
"Ini yang biasa terjadi, makanya kalau misal melakukan pengobatan di Primaya, akan diberi pengobatan khusus dan dianjurkan untuk melakukan masturbasi," bebernya.
Untuk penanganan masturbasi, perlu dilakukan dengan kondisi steril. Lalu, akan diberikan rangsangan di ruang khusus. Biasanya pihak rumah sakit akan menyiapkan film "blue" yang akan merangsang stimulasi pada pasiennya.
"Namun, untuk beberapa kasus, ada juga yang tidak perlu melakukan itu (nonton film). Ia hanya butuh perangsangan atau anilingus dari istri saja sudah bisa melakukan masturbasi. Lalu diberikan gelas steril, nanti dimasukkan semua spermanya disitu," terang dr. Rahmawati.
Nah, untuk masalah - masalah teknis, biasanya terjadi saat penggabungan sperma dan sel telur. Kualitas sperma tidak sesuai dengan kebutuhan sehingga sel telur biasanya gagal untuk dibuahi.
"Kalau kasusnya demikian, maka kami akan memberikan bantuan sperma. Namun, biasanya butuh waktu 2-3 hari untuk mengevaluasi dan melihat perkembangannya. Kalau sudah normal semuanya, maka kita bisa lakukan bayi tabung," pungkasnya.
Primaya Kembangkan Teknologi IVF

Direktur Utama Primaya IVF, Ade Gustian Yuwono menyebutkan, selama 5 tahun terakhir Klinik IVF di Rumah Sakit Primaya Makassar telah melayani lebih dari 4.000 pasien. Ada sekitar 1.500 di antaranya telah terkonversi menjadi Cycles IVF.
"Kami berencana meningkatkan fasilitas Klinik sehingga dapat melayani lebih banyak masyarakat yang membutuhkan layanan bayi tabung/ IVF," ungkapnya.
Ia mengatakan potensi pengembangan layanan bayi tabung/IVF di Kota Makassar maupun di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) sangat besar. Setiap tahun terdapat kurang lebih 72.000 pernikahan di Provinsi Sulawesi Selatan, dimana prevalensi ketidaksuburan mencapai 11%.
“Artinya setiap tahun terdapat penambahan kasus pasangan infertil atau kurang subur sebanyak 7.920 pasangan,” kata Ade.
Menurut Ade, saat ini layanan IVF di RS Primaya Makassar hanya mampu melayani 350 pasangan setiap tahun. Olehnya, Primaya memutuskan untuk menambah fasilitas klinik serta teknologi IVF terbaru. Tujuannya agar mampu melayani 1.000 pasangan setiap tahun, dengan tingkat keberhasilan meningkat di atas 50%.
"Untuk memastikan layanan prima bagi semua pasien yang membutuhkan layanan IVF/Bayi Tabung, melengkapi teknologi yang dikembangkan termasuk ICSI / IMSI, Timelapse incubator, PGTA maupun terapi adjuvant terbaru seperti PRP," ucapnya.
Menurut Ade, inovasi pelayanan kesehatan terbaru dari Primaya Hospital Group antara lain meliputi Kavacare – sebuah layanan Home Care Service bagi para pasien yang terbatas mobilitasnya, sismedika-layanan pengembangan Hospital Information System (HIS).
"Serta terus berinovasi mengembangkan berbagai layanan unggulan Center of Excellence (CoE) antara lain Pain Management, Cardiology, Oncology, Neurology, dan tentunya Obstetric - Gynecology serta Pediatrics," ujarnya.
Namun, sebelum melakukan program bayi tabung harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Ini tujuannya, untuk mengecek kualitas sperma dan sel telur yang akan dibuahi. Sebab hal ini juga cukup mempengaruhi pemeriksaan sperma pada pria dilakukan untuk menilai parameter sperma itu sendiri.
"Tetapi pria yang mengalami azoospermia (sperma kosong) tetap bisa memungkinkan untuk mengikuti proses bayi tabung. Tetapi kami tentu berikan dulu obat ataupun beberapa terapi," ucapnya.
Hal ini dilakukan dengan cara aspirasi sperma, yaitu mengambil sel sperma secara langsung dari testis untuk program bayi tabung.
Sementara untuk wanita juga harus diperiksa sel telurnya yang akan dibuahi. Proses pengambilan telur dilakukan 34–36 jam setelah suntikan hormon terakhir dan sebelum ovulasi.
"Wanita usia 30 tahun ke bawah cenderung memiliki peluang kehamilan yang lebih tinggi, yaitu sebesar 60 persen. Bagi wanita yang usianya di atas 40 tahun, peluang kehamilan ini akan menurun, menjadi dibawah 45 persen," ucapnya.
Untuk harga program bayi tabung sendiri, Rumah Sakit Primaya IVF Makassar menawarha harga mulai dari Rp65 juta. Harga ini lebih murah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News